Wawancara Suara Islam dengan Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Jibril
"Anak Saya Disiksa Di Depan Gories Mere"
Kalau dulu di zaman Orde Baru muncul nama Jenderal (TNI) Leonardus Benny Moerdani sebagai tokoh pembantai para aktivis Islam, sekarang kembali muncul nama Komjen (Pol) Gories Mere sebagai tokoh pembunuh aktivis Islam yang difitnah sebagai teroris.
Kedua Jenderal tentara dan polisi itu memiliki banyak kesamaan. Keduanya sama-sama penganut Kristen Katolik fanatik fundamentalis, berlatar belakang intelijen, membenci Islam, bernafsu menghabisi para aktivis Islam, ahli rekayasa terorisme. Kalau di zaman Orde Baru sengaja dibuat Komando Jihad, Teror Warman, Gerombolan Woyla dan lain-lain; sekarang dibuat istilah teroris.
Semuanya itu dimaksudkan untuk menciptakan stigma negatif terhadap Islam dan umat Islam Indonesia. Padahal semua itu sengaja diciptaan rezim penguasa untuk terus menerus mendiskreditkan umat Islam sehingga menjadi lemah dan akhirnya mudah dikendalikan. Sebaliknya gerombolan Kristen dan Katolik fanatik fundamentalis terus berkembang pesat dan akhirnya berkuasa di Indonesia. Kalau dulu ada Benny Moerdani, sekarang muncul Gories Mere.
Berikut ini wawancara Abdul Halim dan fotografer Fuad al Faroeq dari Tabloid Suara Islam dengan Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Jibril, seputar sepak terjang Gories Mere selama ini dalam mendiskreditkan Islam dan umat Islam Indonesia.
Komjen (Pol) Gories Mere ternyata masih memimpin operasi Densus 88, seperti terungkap ketika penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan insiden Bandara Polonia Medan dengan TNI-AU. Bagaimana komentar anda?
Saya kembali ke sejarah. Dulu ketika zaman Orba, para pemuda yang aktif dalam gerakan penegakan syariat Islam mendirikan Himpunan Pemuda Masjid di Jogjakarta yang saya pimpin sendiri, kemudian menjadi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid se Indonesia (BKPRMI), yang merupakan gabungan para pemuda dan remaja masjid yang memiliki wawasan bagaimana penegakan syariat Islam di Indonesia.
Pada mulanya adalah gerakan Salibis internasional, yang dimulai dari pengumuman Perang Salib modern tahun 2001 lalu oleh Presiden AS George W Bush pasca insiden 11/9 yang disebut Global War on Terrorism (GWoT). Sebenarnya pada waktu itu Menlu Australia sudah mencirikan siapa yang bisa disebut sebagi teroris. Adapun cirinya adalah ulama yang selalu bicara syariat Islam dan khilafah yang ditegakkan dengan dakwah dan jihad serta menolak demokrasi. Mereka selalu berpakaian baju koko atau jubah, memakai serban, jenggot, istrinya berjubah besar dan cadar. Kalau diteliti ini semua mengarah kepada umat Islam. Inilah yang mereka sebut sebagai teroris.
Padahal menurut Wapres Hamzah Haz pada waktu itu, di Indonesia tidak ada teroris. Namun setelah SBY jadi Presiden, stigma teroris yang dilekatkan kepada umat Islam menjadi sangat populer. SBY banyak sekali terlibat dalam pengenaan stigma negatif kepada umat Islam ini. Bahkan selama 10 tahun sejak SBY menjabat Menkopolkam hingga Presiden, istilah teroris di Indonesia sangat terkenal. Mereka yang ditangkapi atas perintahnya selama ini mencapai 530 orang. Sedangkan yang dibunuh baik secara eksekusi Pengadilan atau ditembak langsung di jalan-jalan kurang lebih 40 orang. Sedangkan tokoh yang paling berperanan dalam memburu mereka yang dituduh sebagai teroris adalah Gories Mere. Meski tugasnya sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), tetapi masih merasa perlu untuk memburu teroris.
Memang selama ini SBY dikenal sebagai kaki tangan yang paling dicintai AS di Indonesia. Dia sengaja mengangkat orang-orang yang bisa membantu tugasnya seperti Gories Mere. Karena AS mayoritas Kristen Salibis, tentu ada suatu perjanjiannya supaya perkembangan Kristen di Indonesia berjalan pesat. Maka apa saja gerakan Kristen selalu berjalan mulus. Meski minoritas, mereka berani membantai umat Islam di Ambon dan Poso, termasuk pembantaian 500 santri Ponpes Walisongo di Poso (2001). Bagaimana kalau mereka mayoritas, tidak dapat kita bayangkan kekejamannya. Selama ini mereka tidak pernah mendapat tekanan dari pemerintah sebagaimana yang selalu dialami umat Islam. Karena yang berkuasa adalah SBY dan algojonya adalah Gories Mere. Selama ini orang yang paling sibuk mengurusi teroris adalah Gories Mere. Dia ada dimana saja, seperti ketika terjadi penangkapan, pembantaian, penembakan, termasuk ketika menangkap anak saya Muhammad Jibril. Ternyata Gories Mere ada ditempat ketika Muhammad Jibril disiksa anak buahnya.
Mengapa selama ini nama Gories Mere tidak pernah muncul dalam setiap operasi anti teroris?
Itulah yang mengherankan, mengapa tidak pernah dimuculkan nama Gories Mere, ini yang perlu dipertanyakan. Ketika terjadi pembantaian dimana-mana, kok namanya selamat saja. Akhir-akhir ini baru muncul dan itupun secara kebetulan karena adanya peristiwa insiden dengan TNI AU di Bandara Polonia Medan. Sepandai-pandainya anjing meloncat, pasti akan jatuh juga. Barangkali inilah waktunya kejatuhan Gories Mere.
Adanya rumor, sejak penangkapan Ustad Abu Bakar Ba’asyir, peristiwa Medan, pengerebegan, penangkapan, pembantaian yang dikaitkan dengan teroris, Gories Mere pasti hadir disitu. Jadi semua kegoncangan akibat isu terorisme di Indonesia, dialah orang pertamanya. Gories Mere diduga mendapatkan banyak dana dalam memimpin operasi anti teroris tersebut. Jadi Gories Mere adalah biang keroknya penyiksaan, penangkapan, pengerebegan dan pembantaiana tertuduh teroris di Indoensia. Terorisme merupakan undang-undang yang dilegalkan penguasa thoghut untuk menghentikan dan mematikan gerakan jihad bagi penegakan syariat Islam dan khilafah. Terorisme merupakan undang-undang yang dilegalkan untuk menangkap, memenjarakan, membunuh para ulama mujahid dan para mujahidinnya.
Kabarnya anda bertemu dengan tiga Jenderal di Mabes Polri pasca penangkapan Muhammad Jibril?
Pada waktu anak saja Muhammad Jibril ditangkap Densus, kami dari MMI pada 27 Agustus 2009 menemui tiga Jenderal di Mabes Polri, yakni Komjen Susno Duadji (Kabareskrim), Brigjen Saud Nasution (Kadensus) dan Irjen Saleh Saaf. Waktu itu MMI menanyakan penangkapan Jibril pada 25 Agustus 2009. Saya minta bertemu Jibril, tetapi tidak diizinkan. Lalu saya menuntut supaya isu terorisme harus selesai di Indonesia. Maka MMI memberikan solusi supaya pemerintah melalui Polri, DPR, MPR dan para ulama mujahidin untuk menjelaskan bagaimana jihad versus terorisme, bagaimana mujahid versus terorisme. Dengan adanya definisi atau batasan ini, maka Polri melalui Densus tidak akan sewenang-wenang melakukan pembantaian dan pembunuhan terduga teroris. Namun hingga sekarang, ternyata belum ada respon dari Mabes Polri.
Waktu itu saya minta ketemu Jibril, tetapi dijawab baru bisa setelah tujuh hari. Saya minta Jibril jangan disiksa, ternyata ketiga Jenderal polisi itu menjawab dengan sumpah: “Demi Allah, anak ustadz tidak akan disiksa”. Lalu saya katakan: “Kalau sampai terjadi penyiksaan, saya doakan ketiga bapak ini akan kualat. Karena bapak sudah bersumpah tidak akan menyiksa anak saya”.
Setelah itu saya terus aktif menelpon Saud Nasution. Pada hari ketujuh, delegasi MMI kembali ke Mabes Polri, ternyata Muhammad Jibril ada di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Subhanallah, dengan izin Allah kami dapat bertemu Jibril dan ternyata seluruh bagian tubuhnya bengkak semuanya. Ternyata selama tujuh hari dia mendapat penyiksaan biadab. Jibril tidak tahu ketika disiksa berada dimana, tetapi sepertinya tempatnya luas dan indah, penyiksaannya berada di ruang bawah tanah. Disitulah Jibril ditelanjangi untuk diperiksa karena dituduh sodomi. Ternyata yang mengejutkan, Gories Mere ikut menyaksikan penyiksaan Jibril. Berarti yang memerintahkan penyiksaan adalah Gories Mere dan dilakukan anak buahnya. Tindakan biadab itu dilakukan untuk mengambil data dan keterangan dari Jibril.
Setelah saya lihat Jibril babak belur karena disiksa, ketika ketemu Saud Nasution saya mengatakan: “Pembohong kamu ! kalau seorang jenderal seperti kamu sudah berbohong, gimana anak buah kamu”. Padahal waktu itu AKBP Zamri yang pernah mengobok-obok rumah saya setelah Jibril ditangkap Densus, ada di samping bosnya tersebut. Kemudian saya mengancam akan menceriterakannya di televisi. Kemudian Saud Nasution memohon jangan diceritakan di televisi.
Sudah berapa banyak yang disiksa, tetapi mereka tidak boleh berbicara. Hanya anak saya Jibril yang berani bicara dan dimuat di media massa. Kalau mereka sampai bicara, maka sangsinya akan dihabisi di dalam penjara. Mereka semua tidak ada yang tidak disiksa, dimana ada yang dicopot kukunya, tubuhnya disetrum listrik dan sebagainya. Anehnya, tidak ada satupun koran atau televisi yang memberitakannya. Terakhir kita lihat Abdullah Sonata dimana dua giginya sampai hancur dan sekarang sudah diganti dengan gigi yang baru. Jadi para tertuduh teroris itu tidak ada yang selamat dari penyiksaan. Memang itulah cara mereka untuk mengorek data dan keterangan, persis seperti perilaku tentara Zionis Israel terhadap tawanan Palestina. Sudah jelas mereka belajar dari tentara Yahudi itu bagaimana cara menyiksa para tawanan. Selama ini Densus selalu menembak tersangka teroris dengan alasan mereka membawa senjata. Demikian pula pasukan Zionis Israel selalu menembak terlebih dahulu seperti dalam kasus pembantaian di atas kapal Mavi Marmara. Jadi sesungguhnya tentara Zionis Israel merupakan guru besarnya Densus 88.
Insiden Bandara Polonia Medan, ternyata mampu membuka kedok Gories Mere yang selama ini disembunyikan?
Ya, jadi sampai terakhir ini baru muncul nama Gories Mere setelah insiden Bandara Polonia Medan dengan TNI AU. Jika tidak ada insiden itu, niscaya nama Gories Mere tetap akan tersembunyi. Memang dalam memimpin operasi, Gories Mere dikenal tidak pandang bulu termasuk terhadap orang yang lagi sholat, seperti yang dialami Ustadz Khairul Ghozali di Sumut. Dimana rumahnya ditembaki secara membabi buta dan Ghazali diseret serta diinjak-injak meski sedang menjalankan sholat. Ini semua terkait dengan operasi Densus yang dipimpin Gories Mere. Semua tawanan yang ditangkap pasti disiksa termasuk Ghozali.
Adapun rumor yang kita dengar, Gories Mere yang memimpin langsung operasi penangkapan Ustadz Abu, memang berusaha mencari nama ke SBY agar menjadi Kapolri. Sehingga tidak pernah putus-putusnya rekayasa penangkapan terduga teroris di Indonesia. Semua sudah ditentukan waktu dan targetnya untuk ditangkap dan disiksa oleh Densus.
Mengapa setiap menjelang kunjungan pejabat AS atau Australia ke Indonesia, selalu muncul kasus terorisme?
Ketika para bos mereka dari luar negeri berkunjung ke Indonesia, memang selalu disuguhkan tangkapan berupa para aktivis Islam yang dituduh teroris.
Nyawa para mujahid itu disetorkan kepada mereka seperti tumbal.Waktu Menlu AS Condolizza Rice (2008) dan Hillary Clinton (2009) berkunjung ke Jakarta ada penembakan teroris. Waktu Presiden Obama mau ke Jakarta, juga ada penembakan terduga teroris. Sepertinya berbagai penembakan itu sudah menjadi target utama dan dipilih waktunya.
Setelah Dulmatin dibunuh, Ustadz Abu ditangkap. Setelah itu muncul peristiwa Medan dan nama Abu Tholut dimunculkan. Setelah ini siapa lagi yang akan diangkat namanya. Saya kira ini merupakan suatu proyek agar dana besar dari luar negeri terutama AS dan Australia segera turun. Jadi umat Islam selalu dijadikan konsumsi dan komoditi mahal. Terorisme merupakan komoditi mahal untuk dijual ke AS dan Australia, sehingga Gories Mere menjadi tokohnya. Jadi sesungguhnya biang kerok isu terorisme di Indonesia adalah Gories Mere sedangkan Presidennya SBY. Sebab sejak Menkopolkam hingga Presiden sekarang, SBY lah yang berkuasa. SBY memang memiliki keistimewaan, selalu mencari simpati rakyat dan tebar pesona dengan isu terorisme. Seperti gambar latihan penembakan teroris tahun 2004 lalu dimana SBY dijadikan sasaran tembak, ternyata itu juga diperlihatkannya kepada rakyat tahun 2009 lalu agar mendapat simpati. Adapun yang terakhir adalah SBY meminta simpati rakyat pada kunjungannya ke Bandung, setelah itu Ustadz Abu ditangkap di Banjar Patroman, Jawa Barat.
Kapolri BHD pernah menyatakan teroris ingin mendirikan negara Islam. Bagaimana tanggapan anda?
Memang ada pernyataan Kapolri gerakan teroris ingin mendirikan negara Islam. Menurut Kapolri, pada 17 Agustus lalu para teroris berencana mengacau suasana peringatan proklamasi dengan menembak Presiden dan Wapres serta pejabat tinggi negara lainnya. Setelah itu besoknya mereka akan mendeklarasikan berdirinya negara Islam di Indonesia. Wah kok hebat sekali para teroris itu ! Saya kira itu hanya ancaman versi Kapolri. Dengan isu itu mereka berusaha memunculkan nama seperti Syahrir dan Syaifuddin Zuhri untuk kemudian dibunuh.
Sekarang setelah isu Medan, dibuat lagi isu teroris yang merampok. Padahal para perampoknya terlihat orang-orang yang berbadan tegap dan cara memegang senjatanya kelihatan sudah profesional. Kemudian mereka menyerang Mapolsek Hamparan Perak. Di televisi dikatakan pelurunya sama antara perampok bank dengan penyerang Mapolsek, sehingga dikejarlah mereka. Inilah gerakan terakhir kali dari Gories Mere. Inilah program Gories Mere menggantikan Benny Moerdani.
Para teroris dituduh mencari dana dengan cara merampok bank untuk fai. Bagaimana komentar anda?
Itu beritanya tidak jelas. Benarkah mereka mengatakan fai, siapa yang mengatakannya ? Karena sudah berpengalaman sebelumnya, maka dimunculkan fai, seperti yang dikatakan si penghianat Nasir Abbas. Jadi fai itu dihubung-hubungkan dengan perampokan. Kebetulan ditangkap mantan anggota MMI Sumut, Marwan yang diminta bicara di Metro TV. Ketika ditanya apakah kenal dengan Ustadz Abu, dia mengatakan pernah sebagai pengawal Ustadz Abu kalau berkunjung ke Sumatera Utara. Padahal dia sudah lama dipecat dari MMI. Saya menduga ini mau dikait-kaitkan dengan Ustadz Abu di pengadilan nanti. Marwan hanya datang ke MMI kalau ada Ustadz dari Jawa, sehingga dianggap tidak disiplin dan akhirnya dipecat.
Bagaimana harapan anda jika nantinya Komjen (Pol) Timur Pradopo dilantik menjadi Kapolri menggantikan BHD?
Memang selama ini dia banyak berkomunikasi dengan ormas Islam, tiba-tiba dia menjadi calon Kapolri. Terus terang saya pesimis, sebab Dai Bahtiar diangkat Kapolri ternyata melindungi SBY, demikian pula dengan BHD yang juga melindungi SBY. Saya khawatir karena Timur Pradopo juga ditunjuk SBY, jangan-jangan nanti dia juga akan melindungi SBY. Inilah kekhawatiran saya. Tetapi saya berharap, mudah-mudahan dia nantinya berpihak kepada umat Islam, jangan seperti Gories Mere yang membantai umat Islam.
Saya berharap Kapolri Timur Pradopo nanti mampu membubarkan Densus 88. Sedangkan kami sekarang sedang melakukan judicial review ke MK agar Densus dibubarkan. Meski tingkat keberhasilannya kecil, tetapi kami sudah berusaha untuk membubarkan Densus. Tetapi paling tidak kebrutalan Densus bisa dihalangi, sehingga tidak dapat melakukan penembakan dijalan-jalan dengan semena-mena atas nama UU Anti Terorisme. Kami berharap Gories Mere segera dipensiunkan jika nanti Densus dibubarkan.
Setiap orang berkuasa seperti Kapolri, harapan kita dia menjadi baik dengan umat Islam dan membubarkan Densus 88, ini yang paling penting. Adapun yang lebih penting lagi adalah dia menjadi orang sholeh. Wallahu A’lam.
Source : suara-islam.com
-------------------------------------------------------------------------------------------
Ralat tulisan pada suara-islam.com:
"Disitulah Jibril ditelanjangi dan disuruh melakukan sodomi bahkan disodomi oleh penyiksanya."
seharusnya:
"Disitulah Jibril ditelanjangi untuk diperiksa karena dituduh sodomi."
Saya buat blog ini karena merasa janggal dengan tindakan densus 88 yang benar seolah olah terjadi apa yang di gembar gemorkan para pendakwah atau aktivis islam bahwa densus 88 sebenarnya PERANG DENGAN ISLAM . BLOG INI artikelnya saya kumpulkan dari berbagai web yang beredar di berbagai milis...
Sabtu, 30 Oktober 2010
Antara Lemah-Lembut Atau Mengikuti Lubang Biawak
Antara Lemah-Lembut Atau Mengikuti Lubang Biawak
Semenjak penguasa global dunia menggulirkan megaproyek War On Terror (WOT / Perang melawan terorisme) tidak sedikit aktifis da’wah Islam yang seperti menjadi salah tingkah dalam menjalankan kegiatan da’wah. Pasalnya kian tahun kian jelas bahwa istilah War On Terror hanyalah sebuah istilah yang faktanya di lapangan berbicara lain.
Hampir semua kasus yang diberi label aksi teror selalu saja menjadikan umat Islam sebagai fihak tertuduh. Bila kegiatan yang serupa dilakukan oleh bukan muslim media Barat seperti seragam untuk tidak menyebutnya sebagai tindakan aksi teror. Bila sebuah aksi jelas-jelas bermuatan teror namun yang melakukan orang Barat bukan muslim, maka pasti ada penjelasannya menurut media Barat. Sebaliknya bila sebuah peristiwa masih bermotif multiinterpretasi maka dia segera dilabel sebagai aksi teror hanya karena pelakunya berasal dari kalangan muslim.
Semua hal di atas akhirnya mengarah kepada suatu public opinion making (pembentukan opini umum) bahwa aksi teror identik dengan ummat Islam dan bahkan ajaran Islam itu sendiri. Namun demikian penguasa global selalu membantah bahwa proyek WOT merupakan kegiatan memerangi ummat Islam apalagi agama Islam.
Akhirnya mereka merumuskan menurut kemauan mereka sendiri apa yang merupakan ajaran Islam dan siapa yang merupakan ummat Islam. Islam, kata mereka, adalah agama yang mengajarkan cinta damai dan pemeluknya alias ummat Islam adalah mereka yang memahami jihad sebagai kegiatan melawan hawa nafsu. Sehingga bilamana ada orang mengaku muslim namun melakukan tindak kekerasan atas nama jihad, berarti yang mereka lakukan itu bukanlah bagian dari ajaran Islam dan pelakunya bukanlah bagian dari ummat Islam.
Karena hal ini berulang terus maka lambat-laun terbentuklah suatu opini bahwa siapa saja yang mengaku muslim dan terlibat dalam melakukan jihad dalam bentuk tindak kekerasan (baca: mengangkat senjata) berarti ia adalah teroris dan aksinya disebut terorisme. Malah siapa saja yang mengaku muslim dan setuju – walaupun tidak pernah terlibat - dengan jihad dalam bentuk tindak kekerasan berarti ia adalah pendukung teroris dan pendukung aksi terorisme.
Dan sebaliknya, siapa saja yang mengaku muslim dan tidak pernah terlibat dan tidak setuju dengan jihad dalam bentuk tindak kekerasan berarti ia bukanlah teroris dan bukan pendukung terorisme. Apalagi jika ia mempunyai pandangan bahwa jihad bermakna perjuangan melawan hawa nafsu berarti inilah muslim yang sejati, muslim yang moderat menurut kacamata dunia modern dan penguasa global.
Opini seperti di atas begitu kuat disebarkan oleh media barat dan pro-barat sehingga sebagian aktifis da’wah pun turut menyuarakannya laksana beo. Maka muncullah di tengah ummat Islam para da’i yang menyerukan agar menjadi muslim sebagaimana dikehendaki oleh penguasa global barat dewasa ini. Hendaknya ummat Islam menjadi muslim moderat yang cinta damai yang bila berbicara jihad berarti maknanya ialah melawan hawa nafsu.
Jangan pernah anggap jihad mengangkat senjata sebagai bagian dari Islam moderat, bahkan bagian dari Islam samasekali. Mereka inilah yang barangkali dimaksudkan oleh Rasulullah sebagai telah mengekor kepada fihak ahli Kitab kemanapun mereka pergi bahkan sampai ke lubang biawak sekalipun.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا
جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, "Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" (HR Bukhary)
Maka muncullah di tengah ummat para aktifis da’wah yang menyeru kepada Islam menurut kemauan penguasa global. Mereka menjadi agen-agen pendukung WOT dalam pengertian memerangi muslim mana saja yang memaknai Islam sebagai suatu ajaran jihad fii sabilillah dalam pengertian perlawanan terhadap thaghut tiran dan penjajah.
Namun oleh para aktifis da’wah mereka itu dilabel sebagai kaum radikalis dan teroris. Para aktifis da’wah ini tidak menyadari bahwa mereka telah masuk ke dalam perangkap agenda penguasa global yang sejatinya memusuhi Islam dan kaum muslimin.
Para aktifis da’wah ini telah salah menanggapi pernyataan George Bush yang berkata: ”It’s either you are with us (the international community) or with them (the terrorists)...!” (Kalian bersama kami - dunia internasional - atau bersama mereka - kaum teroris).
Maka dengan naif dan konyolnya para aktifis da’wah tersebut memilih bersama penguasa global. Jangan-jangan mereka telah memposisikan diri menjadi seperti yang Nabi sinyalir di hadapan sahabat Hudzaifah, yaitu menjadi:
دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ
Dai - dai yang mengajak ke pintu Jahanam.(HR Bukhary-Muslim)
Namun alhamdulillah di dalam tubuh ummat Islam masih saja Allah pastikan hadirnya para da’i sejati yang di tengah zaman penuh fitnah ini tetap memelihara identitas dan da’wah Islamiyyah yang otentik sebagaimana dikehendaki Allah dan Rasul Nya. Mereka adalah para aktifis da’wah yang di satu sisi faham bahwa Islam memang ajaran yang cinta damai. Dan pemahaman mereka tidak ada kaitan dengan opini yang ingin dibangun oleh penguasa global.
Para da’i ini faham bahwa Islam cinta damai karena memang demikianlah Allah ajarkan dan Rasulullah contohkan. Namun pada saat yang sama para da’i sejati ini juga tetap menjelaskan tanpa keraguan bahwa Islam adalah ajaran yang mengharuskan pemeliharaan izzul Islam wal muslimin (ketinggian ajaran Islam dan kehormatan ummat). Sehingga para da’i murni ini tetap mengajarkan makna sebenarnya dari segenap ajaran Islam, termasuk al-jihad fii sabilillah. Di satu sisi Nabi menyuruh kita agar senantiasa berharap kepada Allah keselamatan, ketenteraman dan kedamaian. Namun pada sisi lain Rasulullah juga menyuruh kita bersabar ketika musuh sudah berada di hadapan kita. Jangan lari. Sebab surga berada di bawah kilatan pedang.
أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا
لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ
“Hai manusia, janganlah berangan-angan ingin segera bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah keselamatan. Namun jika kalian telah berhadapan dengan musuh, maka bersabarlah. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya syurga di bawah naungan / kilatan pedang…”(HR Bukhary)
Berdasarkan hadits di atas jelas terlihat bagaimana Nabi menganjurkan seorang muslim untuk mengutamakan keselamatan dan kedamaian. Namun pada hadits di atas pula Nabi peringatkan agar kita jangan lengah dan pasif bila sudah berhadapan dengan musuh. Bahkan di penghujung hadits jelas sekali bahwa Nabi menginginkan agar setiap muslim senantiasa berada dalam keadaan siaga. Suatu kesiagaan yang boleh jadi hingga membutuhkan pengerahan senjata berperang di jalan Allah demi memelihara izzul Islam wal muslimin.
Berarti jelaslah, saudaraku. Pilihan hanya ada dua: menjadi seorang muslim lemah-lembut sambil sadar bahwa kapanpun kewajiban jihad telah muncul, maka ia harus bersegera menyambutnya. Atau menjadi seperti para dai yang mengajak ke pintu Jahanam. Yaitu mereka yang membeo kepada fihak penguasa global kafir dari kalangan ahli Kitab. Mereka ikut menyuarakan apa saja yang disuarakan penguasa global sehingga jika disuruh masuk ke lubang biawak sekalipun, maka para da’i palsu inipun ikut saja. Na’udzubillahi min dzaalika.
http://eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/antara-lemah-lembut-atau-mengikuti-lubang-biawak.htm
Semenjak penguasa global dunia menggulirkan megaproyek War On Terror (WOT / Perang melawan terorisme) tidak sedikit aktifis da’wah Islam yang seperti menjadi salah tingkah dalam menjalankan kegiatan da’wah. Pasalnya kian tahun kian jelas bahwa istilah War On Terror hanyalah sebuah istilah yang faktanya di lapangan berbicara lain.
Hampir semua kasus yang diberi label aksi teror selalu saja menjadikan umat Islam sebagai fihak tertuduh. Bila kegiatan yang serupa dilakukan oleh bukan muslim media Barat seperti seragam untuk tidak menyebutnya sebagai tindakan aksi teror. Bila sebuah aksi jelas-jelas bermuatan teror namun yang melakukan orang Barat bukan muslim, maka pasti ada penjelasannya menurut media Barat. Sebaliknya bila sebuah peristiwa masih bermotif multiinterpretasi maka dia segera dilabel sebagai aksi teror hanya karena pelakunya berasal dari kalangan muslim.
Semua hal di atas akhirnya mengarah kepada suatu public opinion making (pembentukan opini umum) bahwa aksi teror identik dengan ummat Islam dan bahkan ajaran Islam itu sendiri. Namun demikian penguasa global selalu membantah bahwa proyek WOT merupakan kegiatan memerangi ummat Islam apalagi agama Islam.
Akhirnya mereka merumuskan menurut kemauan mereka sendiri apa yang merupakan ajaran Islam dan siapa yang merupakan ummat Islam. Islam, kata mereka, adalah agama yang mengajarkan cinta damai dan pemeluknya alias ummat Islam adalah mereka yang memahami jihad sebagai kegiatan melawan hawa nafsu. Sehingga bilamana ada orang mengaku muslim namun melakukan tindak kekerasan atas nama jihad, berarti yang mereka lakukan itu bukanlah bagian dari ajaran Islam dan pelakunya bukanlah bagian dari ummat Islam.
Karena hal ini berulang terus maka lambat-laun terbentuklah suatu opini bahwa siapa saja yang mengaku muslim dan terlibat dalam melakukan jihad dalam bentuk tindak kekerasan (baca: mengangkat senjata) berarti ia adalah teroris dan aksinya disebut terorisme. Malah siapa saja yang mengaku muslim dan setuju – walaupun tidak pernah terlibat - dengan jihad dalam bentuk tindak kekerasan berarti ia adalah pendukung teroris dan pendukung aksi terorisme.
Dan sebaliknya, siapa saja yang mengaku muslim dan tidak pernah terlibat dan tidak setuju dengan jihad dalam bentuk tindak kekerasan berarti ia bukanlah teroris dan bukan pendukung terorisme. Apalagi jika ia mempunyai pandangan bahwa jihad bermakna perjuangan melawan hawa nafsu berarti inilah muslim yang sejati, muslim yang moderat menurut kacamata dunia modern dan penguasa global.
Opini seperti di atas begitu kuat disebarkan oleh media barat dan pro-barat sehingga sebagian aktifis da’wah pun turut menyuarakannya laksana beo. Maka muncullah di tengah ummat Islam para da’i yang menyerukan agar menjadi muslim sebagaimana dikehendaki oleh penguasa global barat dewasa ini. Hendaknya ummat Islam menjadi muslim moderat yang cinta damai yang bila berbicara jihad berarti maknanya ialah melawan hawa nafsu.
Jangan pernah anggap jihad mengangkat senjata sebagai bagian dari Islam moderat, bahkan bagian dari Islam samasekali. Mereka inilah yang barangkali dimaksudkan oleh Rasulullah sebagai telah mengekor kepada fihak ahli Kitab kemanapun mereka pergi bahkan sampai ke lubang biawak sekalipun.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا
جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, "Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" (HR Bukhary)
Maka muncullah di tengah ummat para aktifis da’wah yang menyeru kepada Islam menurut kemauan penguasa global. Mereka menjadi agen-agen pendukung WOT dalam pengertian memerangi muslim mana saja yang memaknai Islam sebagai suatu ajaran jihad fii sabilillah dalam pengertian perlawanan terhadap thaghut tiran dan penjajah.
Namun oleh para aktifis da’wah mereka itu dilabel sebagai kaum radikalis dan teroris. Para aktifis da’wah ini tidak menyadari bahwa mereka telah masuk ke dalam perangkap agenda penguasa global yang sejatinya memusuhi Islam dan kaum muslimin.
Para aktifis da’wah ini telah salah menanggapi pernyataan George Bush yang berkata: ”It’s either you are with us (the international community) or with them (the terrorists)...!” (Kalian bersama kami - dunia internasional - atau bersama mereka - kaum teroris).
Maka dengan naif dan konyolnya para aktifis da’wah tersebut memilih bersama penguasa global. Jangan-jangan mereka telah memposisikan diri menjadi seperti yang Nabi sinyalir di hadapan sahabat Hudzaifah, yaitu menjadi:
دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ
Dai - dai yang mengajak ke pintu Jahanam.(HR Bukhary-Muslim)
Namun alhamdulillah di dalam tubuh ummat Islam masih saja Allah pastikan hadirnya para da’i sejati yang di tengah zaman penuh fitnah ini tetap memelihara identitas dan da’wah Islamiyyah yang otentik sebagaimana dikehendaki Allah dan Rasul Nya. Mereka adalah para aktifis da’wah yang di satu sisi faham bahwa Islam memang ajaran yang cinta damai. Dan pemahaman mereka tidak ada kaitan dengan opini yang ingin dibangun oleh penguasa global.
Para da’i ini faham bahwa Islam cinta damai karena memang demikianlah Allah ajarkan dan Rasulullah contohkan. Namun pada saat yang sama para da’i sejati ini juga tetap menjelaskan tanpa keraguan bahwa Islam adalah ajaran yang mengharuskan pemeliharaan izzul Islam wal muslimin (ketinggian ajaran Islam dan kehormatan ummat). Sehingga para da’i murni ini tetap mengajarkan makna sebenarnya dari segenap ajaran Islam, termasuk al-jihad fii sabilillah. Di satu sisi Nabi menyuruh kita agar senantiasa berharap kepada Allah keselamatan, ketenteraman dan kedamaian. Namun pada sisi lain Rasulullah juga menyuruh kita bersabar ketika musuh sudah berada di hadapan kita. Jangan lari. Sebab surga berada di bawah kilatan pedang.
أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا
لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ
“Hai manusia, janganlah berangan-angan ingin segera bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah keselamatan. Namun jika kalian telah berhadapan dengan musuh, maka bersabarlah. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya syurga di bawah naungan / kilatan pedang…”(HR Bukhary)
Berdasarkan hadits di atas jelas terlihat bagaimana Nabi menganjurkan seorang muslim untuk mengutamakan keselamatan dan kedamaian. Namun pada hadits di atas pula Nabi peringatkan agar kita jangan lengah dan pasif bila sudah berhadapan dengan musuh. Bahkan di penghujung hadits jelas sekali bahwa Nabi menginginkan agar setiap muslim senantiasa berada dalam keadaan siaga. Suatu kesiagaan yang boleh jadi hingga membutuhkan pengerahan senjata berperang di jalan Allah demi memelihara izzul Islam wal muslimin.
Berarti jelaslah, saudaraku. Pilihan hanya ada dua: menjadi seorang muslim lemah-lembut sambil sadar bahwa kapanpun kewajiban jihad telah muncul, maka ia harus bersegera menyambutnya. Atau menjadi seperti para dai yang mengajak ke pintu Jahanam. Yaitu mereka yang membeo kepada fihak penguasa global kafir dari kalangan ahli Kitab. Mereka ikut menyuarakan apa saja yang disuarakan penguasa global sehingga jika disuruh masuk ke lubang biawak sekalipun, maka para da’i palsu inipun ikut saja. Na’udzubillahi min dzaalika.
http://eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/antara-lemah-lembut-atau-mengikuti-lubang-biawak.htm
Beberapa Fakta Janggal tentang Sofyan Tsauri Menurut Wartawan ANTV
Beberapa Fakta Janggal tentang Sofyan Tsauri Menurut Wartawan ANTV
Jakarta (voa-islam.com) -Di tengah riuh rendah isu penyergapan teroris di medan, sofyan tsauri, bekas polisi yang disebut-sebut sebagai perekrut dan pelatih kelompok teroris aceh disidangkan di pengadilan negeri depok kamis lalu.
Anehnya, tidak ada seorang anggota densus-88 pun, bahkan polisi biasa yang mengawal persidangan itu, padahal, biasanya polisi terutama tim densus 88, selalu mengawal tersangka teroris. Apalagi, sofyan selalu digambarkan sebagai gembong teroris paling berbahaya di kelompok aceh setelah dulmatin tewas.
Sementara itu, Kapolri jenderal bambang hendarso danuri pun menyebut perampokan bank CIMB Medan sebulan lalu terkait dengan jaringan teroris aceh. Lalu mengapa pengawalan begitu longgar? Siapakah sebenarnya sofyan tsauri? Benarkah lelaki itu agen intelijen yang disusupkan ke jaringan teroris? Bagaimana penyusupan itu terjadi? Tim liputan antv menemukan berbagai kejanggalan di lapangan.
Kejanggalan I: Minim Pengamanan dalam Sidang
Di Pengadilan negeri depok, pada hari kamis, 23 september 2010, tak ada yang luar biasa di sana. Siang itu, suasana sepi, penjagaan pun tidak istimewa, padahal, hari itu sofyan tsauri, seorang lelaki yang disebut-sebut sebagai gembong teroris aceh, untuk pertama kalinya disidangkan.
Dialah satu-satunya tersangka teroris aceh yang disidangkan di pengadilan negeri depok. Wartawan antv, ahmad sumardjoko pun terperangah ketika melangkah ke bagian belakang gedung pengadilan negeri depok sebab di depan sel tersangka seorang lelaki bergamis dan bertubuh gempal langsung menyapa di balik jeruji besi apalagi lelaki yang mengaku bernama sofyan tsauri itu lalu meminta diwawancarai.
Maka, begitu kamera terarah ke sosok bertubuh gempal itu meluncurlah pengakuan sofyan tentang dirinya tanpa tedeng aling-aling. Setelah mengaku sebagai anggota kelompok al qaidah asia tenggara, sofyan mengaku memang sengaja memakai jalur kekerasan dalam mencapai tujuan yakni kemenangan Islam. Dengan blak-blakan sofyan mencaci maki amerika serikat dan para pemimpin indonesia yang mengekor Amerika. Namun tak lupa sofyan juga menyanyi tentang faksi-faksi yang tergabung dalam kelompok mereka yang berlatih militer di aceh.
...“seperti yang anda ketahui, sebagai anggota al qaidah asia tenggara, kami senantiasa menyiapkan langkah untuk menyerang ….”
Anehnya pengakuan gamblang sofyan di dalam sel itu, seolah sengaja dibiarkan. Tidak ada polisi, petugas kejaksaan, atau petugas keamanan lain yang mencoba menghentikan ocehan sofyan.
Padahal selama ini, setiap kali sidang teroris digelar puluhan polisi dan anggota densus 88 senantiasa mengawal mereka, terlebih lagi jika yang disidang adalah orang yang telah dinobatkan sebagai tersangka teroris kelas kakap sebagaimana sofyan tsauri.
Maka, selama sekitar setengah jam wartawan antv mewawancarai sofyan tsauri dengan leluasa sofyan yang mengaku telah dipecat dari dinas kepolisian itu bercerita penuh percaya diri tentang sepak terjangnya sebagai perekrut, pelatih serta penyedia senjata dan amunisi untuk para tersangka teroris aceh.
Namun, berbeda dengan para tersangka teroris lainnya, yang biasanya sangat takzim saat menyebut nama Usamah bin Laden, dengan sebutan syaikh atau al mujahid, Sofyan justru terkesan biasa-biasa saja, saat menyebut pimpinan tertinggi al qaidah itu, padahal sofyan mengaku anggota Al Qaidah asia tenggara.
...Usamah bin laden dan dr ayman al zawahiri memimpin kami…”
Uniknya, saat kelonggaran pengawalan sofyan tsauri ditanyakan kepada Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Iskandar Hasan, Iskandar justru menyalahkan pihak kejaksaan.
..."ini tanggung jawab pihak kejaksaan dan pengadilan. seharusnya mereka meminta kami dari pihak kepolisian untuk mengawal tersangka”..
Tanggapan iskandar ini agak aneh, sebab, selama ini secara otomatis pihak polisi terutama densus 88 justru yang pro-aktif mengawal dan mengamankan persidangan para tersangka teroris. Apalagi, menurut keterangan isteri sofyan, suaminya pun dalam status tahanan titip kejaksaan di polda metro jaya.
Tentu saja sepenggal kisah di pengadilan negeri Depok, kamis siang lalu itu, semakin menambah daftar pertanyaan tentang siapa sebenarnya sofyan tsauri.
Kejanggalan II : Menawarkan Pendanaan Militer
Nama Sofyan Tsauri mulai muncul di permukaan, ketika polisi menyerbu gerombolan bersenjata di hutan kawasan jantho, Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam, awal maret 2010. Saat itu, sofyan bekas anggota sabhara kepolisian resort Depok, Jawa Barat berpangkat brigadir kepala ini, sudah disebut-sebut sebagai pelatih para anggota gerombolan itu.
...."di antara para tersangka teroris yang tertangkap ada seseorang yang diduga sebagai pelatih mereka.." kata Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri...
Nama Sofyan Tsauri semakin tenar ketika pada 9 maret 2010 polisi menembak mati dulmatin di warung internet multiplus, Pamulang, Banten. Dulmatin adalah buronan polisi yang sempat kabur ke Filipina. Polisi menduga dulmatin terlibat kasus bom bali satu, dan berbagai kasus bom lainnya. Selain sebagai pelatih, Sofyan ditengarai polisi sebagai kolaborator dulmatin, yang bertugas menyediakan senjata dan amunisi.
...Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri: “dialah yang menyediakan senjata, amunisi dan melatih para nggota teroris itu”...
Berdasarkan keterangan polisi, Sofyan telah dinobatkan sebagai tokoh sentral dalam pelatihan kelompok teroris aceh di jantho, Sofyan-lah yang menyediakan 28 pucuk senjata laras panjang, berikut amunisinya. Sofyan pula yang merekrut, melatih menembak, dan membekali para pemuda yang berhasil direkrutnya dengan kemampuan militer. Iming-iming yang diberikan, para pemuda itu konon akan dikirim untuk berjihad ke Gaza, Palestina.
Semula sofyan ditugaskan ke aceh untuk mengikuti operasi keamanan dan ketertiban masyarakat pasca bencana tsunami 2004. Namun di bumi serambi mekah itu entah mengapa kata Mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang, Sofyan berubah menjadi radikal.
..."awalnya dia memang ditugaskan di aceh, namun kemudian terpengaruh dengan ide terorisme… ia tak pernah muncul lagi di kesatuan….”kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang..
Namun, Ketua Divisi Advokasi Front Pembela Islam (FPI), Munarman , menemukan banyak kejanggalan sepak terjang sofyan, misalnya, Munarman menemukan fakta bahwa sofyan mulai merekrut para pemuda muslim untuk menjadi mujahidin sejak masih berdinas sebagai polisi.
Seorang anggota FPI yang sempat direkrut mengungkapkan bahwa mereka baru tahu sofyan bekas polisi yang telah dipecat saat menginap di rumah sofyan. Saat itu, sofyan seolah sengaja meninggalkan surat pemecatannya di meja agar dibaca para pemuda yang direkrutnya.
“Sufyan tsauri ini mulai dari maret 2009 sampai dengan januari 2010 itu keliling, bukan saja ke aceh, tetapi juga ke beberapa pulau jawa. kita waktu itu, sempat ke solo, ke jawa tengah dan beberapa daerah lain. ini sufyan tsauri ini rupanya sudah masuk kemana-mana. yang aneh adalah, yg dilakukan oleh sufyan tsauri ini, dia menawarkan uang untuk setiap pembukaan latihan 500 juta rupiah kepada ustad2 setempat. kalo ustad ini, mau membuka pelatihan militer, dia mau membiayai 500 juta. untung saja, ustad-ustad di solo, di jawa tengah sekitarnya, menolak. tetapi rupanya, ada beberapa orang berhasil dia rekrut, untuk dibawa ke pelatihan di aceh. “ ungkap Munarman.
Namun fakta yang paling janggal adalah kenyataan bahwa sofyan melatih para pemuda itu di lapangan tembak Markas Komando brigade mobil, Kelapa Dua, Depok, Jawa barat selama sebulan penuh kebetulan rumah sofyan tak jauh dari kompleks mako brimob kelapa dua.
Bekerja sama dengan dua petugas gudang senjata brimob, Sofyan mendapat puluhan pucuk senapan laras panjang jenis AK-47 dan SS-1 . Senjata-senjata itulah yang dipakai untuk latihan menembak, sementara sofyan pun selalu memberikan 50 butir peluru per orang, setiap kali sesi latihan berlangsung.
Tak hanya itu, sofyan pun membekali masing-masing pemuda itu dengan sejumlah uang selama sebulan tinggal di Jakarta.
...“nah pelatihan di aceh yg punya peran sentral soal uang, segala macam, senjata, yang pasok itu penuh seluruhnya oleh sufyan tsauri. tapi, sampai hari ini, soal sofyan tsauri, gelap”ungkap Munarman...
Yang juga menarik saat beberapa pemuda rekrutannya ditangkap di aceh secara tak sengaja ketua FPI Aceh, Yusuf Qardhawi, melihat sofyan melenggang bebas di luar tahanan polda aceh, sofyan bahkan sempat menyapa yusuf sebelum naik mobil vitara bersama beberapa polisi lainnya menuju pusat kota.
Menurut Munarman, Sofyan sengaja disusupkan intelijen polri untuk meradikalisasi kelompok-kelompok islam . Apalagi beberapa pemuda yang direkrut itu anggota Jamaah Ansharut Tauhid maupun Front Pembela Islam. Anehnya, para pemuda itu sebagian lalu dilepas, setelah dipaksa mengakui keterlibatan baasyir dalam pelatihan teroris di aceh.
“dugaan kuat kita, ustad abu ditangkap, karena ada teman-teman kita yang ditangkap, dipaksa utk memberikan pengakuan dlm bap bahwa ustad abu bakar yg membiayai ini semua. karena saya tahu, ustad abu beberapa kali ke kantor saya sebelum ini, dia bilang, dia tidak setuju dgn gerakan gerakan seperti itu dalam tanda petik, itu tidak ada konsep islam seperti itu. konsep jihad itu satu komando, terorganisir, bukan yang main main seperti ini..” Ungkap Munarman
Tentu saja teori radikalisasi ala munarman itu, ditolak mentah-mentah pihak kepolisian. Menurut mantan kepala divisi humas mabes polri irjen edwar aritonang dugaan kesengajaan menyusupkan sofyan agar ada alasan polisi untuk menangkap baasyir dan aktifis muslim lainnya adalah tidak benar.
...“itu tidak benar, sofyan memang deserter dan terlibat terorisme… sementara itu kami punya bukti yang kuat keterlibatan abu bakar baasyir”ungkap Aritonang...
Maka, hingga kini dugaan bahwa sofyan tsauri adalah agen yang sengaja disusupkan polisi masih menjadi pro dan kontra di masyarakat.
Kejanggalan III : Kontradiktif Pengakuan
Kisah tentang sepak terjang sofyan tsauri, tersangka teroris aceh , yang dituding Front Pembela Islam sebagai intel susupan untuk merekayasa gerakan teroris aceh menjadi isu hangat di sejumlah media apalagi setelah pimpinan jamaah ansharut tauhid abu bakar baasyir ditangkap detasemen khusus 88 polri di banjar, 9 agustus 2010 lalu.
Maka, berbekal informasi dari narasumber yang mengaku kenal sofyan tsauri, kami melangkah menuju kawasan kelapa dua Depok, Jawa Barat. dengan niat mengungkap berbagai kejanggalan kasus sofyan tsauri, tim mencoba menelusuri jejak disertir polisi itu.
Narasumber yang kami temui di rumahnya itu, bernama suyono. Suyono mengaku kenal sofyan sebagai seorang disertir polisi, maklumlah, suyono adalah karyawan sofyan dalam bisnis yang telah lebih dua tahun mereka jalankan.
Yang menarik, bisnis mereka adalah jual beli air soft gun, alias senjata mainan yang mirip ukuran sebenarnya. Langganan mereka pun kebanyakan polisi dan tentara. Apalagi toko mereka berada di dekat kawasan militer cijantung.
Menurut suyono, bosnya tinggal berpindah-pindah rumah, namun masih berkisar di sekitar Markas Komando Brimob Kepala Dua. Dalam pandangan Suyono, Sofyan adalah seorang polisi yang punya pemahaman islam kental.
Kepada karyawannya, sofyan bahkan mengaku kerap ditegur atasan karena tak mau menghormat bendera. Karena itu, suyono ragu jika sufyan adalah intel polisi yang disusupkan ke gerakan Islam. Suyono sendiri mengaku sempat ditangkap polisi, atas tuduhan terlibat terorisme. Namun, entah mengapa lelaki itu kemudian dilepaskan lagi, dan menjalankan bisnis bosnya.
...“saya rasa tidak benar, ya…”ungkap Suyono,karyawan sofyan tsauri..
Percakapan kami hingga malam hari dengan suyono, akhirnya membuahkan hasil. Suyono pun bersedia menghubungkan kami, dengan istri sofyan tsauri.
Berbekal informasi suyono, keesokan harinya, kami menelusuri rumah sofyan, di kawasan sekitar Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok.
penelusuran kami terhenti di sebuah rumah yang asri, di belakang kampusGunadarma, Depok, tak jauh dari Mako Brimob. Di rumah itu, tinggal istri pertama sufyan, bernama astri. Rumah megah itu sangat jauh berbeda dengan model rumah kontrakan yang biasa dihuni para tersangka teroris. Rumah itu tampak tertata rapi dan asri.
Seperti suyono, astri pun membantah jika suaminya agen intelejen yang disusupkan ke gerakan islam, untuk merekayasa kasus teroris aceh, dan menyeret nama abu bakar ba'asyir.
Meskipun demikian, dalam perbincangan dengan tim kami, tofik m tohir dan nugroho dendy, astri mengakui, bahwa rumahnya pernah diinapi kawan kawan sofyan dari aceh. Dengan polos astri pun mengakui bahwa suaminya pernah melatih kawan kawannya menembak di Mako Brimob.
Tapi astri membantah, jika latihan menembak itu terkait dengan kasus terorisme. Menurut astri, latihan menembak itu adalah bagian dari bisnis hobi senjata airsoft gun yang dijalankan suaminya hingga kini.
Astri bahkan menantang balik tudingan FPI dengan melihat fakta keberadaan suaminya yang masih ditahan di sel polda metro jaya.“tidak benar itu…” katanya.
Namun, berbagai fakta dan keterangan dari rumah sofyan, justru semakin menerbitkan kecurigaan kami, tentang sepak terjang sofyan . Sebab sikap sofyan maupun isterinya terasa terlalu terbuka dan jauh berbeda dengan karakter tersangka teroris selama ini yang cenderung tertutup dan tak mudah percaya untuk diwawancarai wartawan.
Kejanggalan juga semakin jelas, karena ternyata bisnis air soft gun sofyan hingga kini terus berlangsung. Padahal, selama ini mata pencaharian tersangka teroris pasti langsung terputus, ketika mereka ditangkap. Apalagi, senjata mainan air soft gun itu adalah barang yang peka dan rawan penyalahgunaan.
Fakta bahwa sofyan hingga kini masih ditahan di Polda Metro Jaya juga menggugurkan alasan kegeraman Kadiv Humas Polri Irjen Iskandar Hasan, yang menuding aparat kejaksaan dan kehakiman tidak berkoordinasi dengan polisi untuk mengawal persidangan sofyan.
Sumber tulisan:
Judul : Fakta Janggal di Sekitar Tsauri
Penulis : Hanibal w y wijayanta
Rep/cam : Ahmad sumardjoko dkk.
http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/28/10429/beberapa-fakta-janggal-tentang-sofyan-tsauri-menurut-wartawan-antv/
Jakarta (voa-islam.com) -Di tengah riuh rendah isu penyergapan teroris di medan, sofyan tsauri, bekas polisi yang disebut-sebut sebagai perekrut dan pelatih kelompok teroris aceh disidangkan di pengadilan negeri depok kamis lalu.
Anehnya, tidak ada seorang anggota densus-88 pun, bahkan polisi biasa yang mengawal persidangan itu, padahal, biasanya polisi terutama tim densus 88, selalu mengawal tersangka teroris. Apalagi, sofyan selalu digambarkan sebagai gembong teroris paling berbahaya di kelompok aceh setelah dulmatin tewas.
Sementara itu, Kapolri jenderal bambang hendarso danuri pun menyebut perampokan bank CIMB Medan sebulan lalu terkait dengan jaringan teroris aceh. Lalu mengapa pengawalan begitu longgar? Siapakah sebenarnya sofyan tsauri? Benarkah lelaki itu agen intelijen yang disusupkan ke jaringan teroris? Bagaimana penyusupan itu terjadi? Tim liputan antv menemukan berbagai kejanggalan di lapangan.
Kejanggalan I: Minim Pengamanan dalam Sidang
Di Pengadilan negeri depok, pada hari kamis, 23 september 2010, tak ada yang luar biasa di sana. Siang itu, suasana sepi, penjagaan pun tidak istimewa, padahal, hari itu sofyan tsauri, seorang lelaki yang disebut-sebut sebagai gembong teroris aceh, untuk pertama kalinya disidangkan.
Dialah satu-satunya tersangka teroris aceh yang disidangkan di pengadilan negeri depok. Wartawan antv, ahmad sumardjoko pun terperangah ketika melangkah ke bagian belakang gedung pengadilan negeri depok sebab di depan sel tersangka seorang lelaki bergamis dan bertubuh gempal langsung menyapa di balik jeruji besi apalagi lelaki yang mengaku bernama sofyan tsauri itu lalu meminta diwawancarai.
Maka, begitu kamera terarah ke sosok bertubuh gempal itu meluncurlah pengakuan sofyan tentang dirinya tanpa tedeng aling-aling. Setelah mengaku sebagai anggota kelompok al qaidah asia tenggara, sofyan mengaku memang sengaja memakai jalur kekerasan dalam mencapai tujuan yakni kemenangan Islam. Dengan blak-blakan sofyan mencaci maki amerika serikat dan para pemimpin indonesia yang mengekor Amerika. Namun tak lupa sofyan juga menyanyi tentang faksi-faksi yang tergabung dalam kelompok mereka yang berlatih militer di aceh.
...“seperti yang anda ketahui, sebagai anggota al qaidah asia tenggara, kami senantiasa menyiapkan langkah untuk menyerang ….”
Anehnya pengakuan gamblang sofyan di dalam sel itu, seolah sengaja dibiarkan. Tidak ada polisi, petugas kejaksaan, atau petugas keamanan lain yang mencoba menghentikan ocehan sofyan.
Padahal selama ini, setiap kali sidang teroris digelar puluhan polisi dan anggota densus 88 senantiasa mengawal mereka, terlebih lagi jika yang disidang adalah orang yang telah dinobatkan sebagai tersangka teroris kelas kakap sebagaimana sofyan tsauri.
Maka, selama sekitar setengah jam wartawan antv mewawancarai sofyan tsauri dengan leluasa sofyan yang mengaku telah dipecat dari dinas kepolisian itu bercerita penuh percaya diri tentang sepak terjangnya sebagai perekrut, pelatih serta penyedia senjata dan amunisi untuk para tersangka teroris aceh.
Namun, berbeda dengan para tersangka teroris lainnya, yang biasanya sangat takzim saat menyebut nama Usamah bin Laden, dengan sebutan syaikh atau al mujahid, Sofyan justru terkesan biasa-biasa saja, saat menyebut pimpinan tertinggi al qaidah itu, padahal sofyan mengaku anggota Al Qaidah asia tenggara.
...Usamah bin laden dan dr ayman al zawahiri memimpin kami…”
Uniknya, saat kelonggaran pengawalan sofyan tsauri ditanyakan kepada Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Iskandar Hasan, Iskandar justru menyalahkan pihak kejaksaan.
..."ini tanggung jawab pihak kejaksaan dan pengadilan. seharusnya mereka meminta kami dari pihak kepolisian untuk mengawal tersangka”..
Tanggapan iskandar ini agak aneh, sebab, selama ini secara otomatis pihak polisi terutama densus 88 justru yang pro-aktif mengawal dan mengamankan persidangan para tersangka teroris. Apalagi, menurut keterangan isteri sofyan, suaminya pun dalam status tahanan titip kejaksaan di polda metro jaya.
Tentu saja sepenggal kisah di pengadilan negeri Depok, kamis siang lalu itu, semakin menambah daftar pertanyaan tentang siapa sebenarnya sofyan tsauri.
Kejanggalan II : Menawarkan Pendanaan Militer
Nama Sofyan Tsauri mulai muncul di permukaan, ketika polisi menyerbu gerombolan bersenjata di hutan kawasan jantho, Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam, awal maret 2010. Saat itu, sofyan bekas anggota sabhara kepolisian resort Depok, Jawa Barat berpangkat brigadir kepala ini, sudah disebut-sebut sebagai pelatih para anggota gerombolan itu.
...."di antara para tersangka teroris yang tertangkap ada seseorang yang diduga sebagai pelatih mereka.." kata Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri...
Nama Sofyan Tsauri semakin tenar ketika pada 9 maret 2010 polisi menembak mati dulmatin di warung internet multiplus, Pamulang, Banten. Dulmatin adalah buronan polisi yang sempat kabur ke Filipina. Polisi menduga dulmatin terlibat kasus bom bali satu, dan berbagai kasus bom lainnya. Selain sebagai pelatih, Sofyan ditengarai polisi sebagai kolaborator dulmatin, yang bertugas menyediakan senjata dan amunisi.
...Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri: “dialah yang menyediakan senjata, amunisi dan melatih para nggota teroris itu”...
Berdasarkan keterangan polisi, Sofyan telah dinobatkan sebagai tokoh sentral dalam pelatihan kelompok teroris aceh di jantho, Sofyan-lah yang menyediakan 28 pucuk senjata laras panjang, berikut amunisinya. Sofyan pula yang merekrut, melatih menembak, dan membekali para pemuda yang berhasil direkrutnya dengan kemampuan militer. Iming-iming yang diberikan, para pemuda itu konon akan dikirim untuk berjihad ke Gaza, Palestina.
Semula sofyan ditugaskan ke aceh untuk mengikuti operasi keamanan dan ketertiban masyarakat pasca bencana tsunami 2004. Namun di bumi serambi mekah itu entah mengapa kata Mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang, Sofyan berubah menjadi radikal.
..."awalnya dia memang ditugaskan di aceh, namun kemudian terpengaruh dengan ide terorisme… ia tak pernah muncul lagi di kesatuan….”kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang..
Namun, Ketua Divisi Advokasi Front Pembela Islam (FPI), Munarman , menemukan banyak kejanggalan sepak terjang sofyan, misalnya, Munarman menemukan fakta bahwa sofyan mulai merekrut para pemuda muslim untuk menjadi mujahidin sejak masih berdinas sebagai polisi.
Seorang anggota FPI yang sempat direkrut mengungkapkan bahwa mereka baru tahu sofyan bekas polisi yang telah dipecat saat menginap di rumah sofyan. Saat itu, sofyan seolah sengaja meninggalkan surat pemecatannya di meja agar dibaca para pemuda yang direkrutnya.
“Sufyan tsauri ini mulai dari maret 2009 sampai dengan januari 2010 itu keliling, bukan saja ke aceh, tetapi juga ke beberapa pulau jawa. kita waktu itu, sempat ke solo, ke jawa tengah dan beberapa daerah lain. ini sufyan tsauri ini rupanya sudah masuk kemana-mana. yang aneh adalah, yg dilakukan oleh sufyan tsauri ini, dia menawarkan uang untuk setiap pembukaan latihan 500 juta rupiah kepada ustad2 setempat. kalo ustad ini, mau membuka pelatihan militer, dia mau membiayai 500 juta. untung saja, ustad-ustad di solo, di jawa tengah sekitarnya, menolak. tetapi rupanya, ada beberapa orang berhasil dia rekrut, untuk dibawa ke pelatihan di aceh. “ ungkap Munarman.
Namun fakta yang paling janggal adalah kenyataan bahwa sofyan melatih para pemuda itu di lapangan tembak Markas Komando brigade mobil, Kelapa Dua, Depok, Jawa barat selama sebulan penuh kebetulan rumah sofyan tak jauh dari kompleks mako brimob kelapa dua.
Bekerja sama dengan dua petugas gudang senjata brimob, Sofyan mendapat puluhan pucuk senapan laras panjang jenis AK-47 dan SS-1 . Senjata-senjata itulah yang dipakai untuk latihan menembak, sementara sofyan pun selalu memberikan 50 butir peluru per orang, setiap kali sesi latihan berlangsung.
Tak hanya itu, sofyan pun membekali masing-masing pemuda itu dengan sejumlah uang selama sebulan tinggal di Jakarta.
...“nah pelatihan di aceh yg punya peran sentral soal uang, segala macam, senjata, yang pasok itu penuh seluruhnya oleh sufyan tsauri. tapi, sampai hari ini, soal sofyan tsauri, gelap”ungkap Munarman...
Yang juga menarik saat beberapa pemuda rekrutannya ditangkap di aceh secara tak sengaja ketua FPI Aceh, Yusuf Qardhawi, melihat sofyan melenggang bebas di luar tahanan polda aceh, sofyan bahkan sempat menyapa yusuf sebelum naik mobil vitara bersama beberapa polisi lainnya menuju pusat kota.
Menurut Munarman, Sofyan sengaja disusupkan intelijen polri untuk meradikalisasi kelompok-kelompok islam . Apalagi beberapa pemuda yang direkrut itu anggota Jamaah Ansharut Tauhid maupun Front Pembela Islam. Anehnya, para pemuda itu sebagian lalu dilepas, setelah dipaksa mengakui keterlibatan baasyir dalam pelatihan teroris di aceh.
“dugaan kuat kita, ustad abu ditangkap, karena ada teman-teman kita yang ditangkap, dipaksa utk memberikan pengakuan dlm bap bahwa ustad abu bakar yg membiayai ini semua. karena saya tahu, ustad abu beberapa kali ke kantor saya sebelum ini, dia bilang, dia tidak setuju dgn gerakan gerakan seperti itu dalam tanda petik, itu tidak ada konsep islam seperti itu. konsep jihad itu satu komando, terorganisir, bukan yang main main seperti ini..” Ungkap Munarman
Tentu saja teori radikalisasi ala munarman itu, ditolak mentah-mentah pihak kepolisian. Menurut mantan kepala divisi humas mabes polri irjen edwar aritonang dugaan kesengajaan menyusupkan sofyan agar ada alasan polisi untuk menangkap baasyir dan aktifis muslim lainnya adalah tidak benar.
...“itu tidak benar, sofyan memang deserter dan terlibat terorisme… sementara itu kami punya bukti yang kuat keterlibatan abu bakar baasyir”ungkap Aritonang...
Maka, hingga kini dugaan bahwa sofyan tsauri adalah agen yang sengaja disusupkan polisi masih menjadi pro dan kontra di masyarakat.
Kejanggalan III : Kontradiktif Pengakuan
Kisah tentang sepak terjang sofyan tsauri, tersangka teroris aceh , yang dituding Front Pembela Islam sebagai intel susupan untuk merekayasa gerakan teroris aceh menjadi isu hangat di sejumlah media apalagi setelah pimpinan jamaah ansharut tauhid abu bakar baasyir ditangkap detasemen khusus 88 polri di banjar, 9 agustus 2010 lalu.
Maka, berbekal informasi dari narasumber yang mengaku kenal sofyan tsauri, kami melangkah menuju kawasan kelapa dua Depok, Jawa Barat. dengan niat mengungkap berbagai kejanggalan kasus sofyan tsauri, tim mencoba menelusuri jejak disertir polisi itu.
Narasumber yang kami temui di rumahnya itu, bernama suyono. Suyono mengaku kenal sofyan sebagai seorang disertir polisi, maklumlah, suyono adalah karyawan sofyan dalam bisnis yang telah lebih dua tahun mereka jalankan.
Yang menarik, bisnis mereka adalah jual beli air soft gun, alias senjata mainan yang mirip ukuran sebenarnya. Langganan mereka pun kebanyakan polisi dan tentara. Apalagi toko mereka berada di dekat kawasan militer cijantung.
Menurut suyono, bosnya tinggal berpindah-pindah rumah, namun masih berkisar di sekitar Markas Komando Brimob Kepala Dua. Dalam pandangan Suyono, Sofyan adalah seorang polisi yang punya pemahaman islam kental.
Kepada karyawannya, sofyan bahkan mengaku kerap ditegur atasan karena tak mau menghormat bendera. Karena itu, suyono ragu jika sufyan adalah intel polisi yang disusupkan ke gerakan Islam. Suyono sendiri mengaku sempat ditangkap polisi, atas tuduhan terlibat terorisme. Namun, entah mengapa lelaki itu kemudian dilepaskan lagi, dan menjalankan bisnis bosnya.
...“saya rasa tidak benar, ya…”ungkap Suyono,karyawan sofyan tsauri..
Percakapan kami hingga malam hari dengan suyono, akhirnya membuahkan hasil. Suyono pun bersedia menghubungkan kami, dengan istri sofyan tsauri.
Berbekal informasi suyono, keesokan harinya, kami menelusuri rumah sofyan, di kawasan sekitar Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok.
penelusuran kami terhenti di sebuah rumah yang asri, di belakang kampusGunadarma, Depok, tak jauh dari Mako Brimob. Di rumah itu, tinggal istri pertama sufyan, bernama astri. Rumah megah itu sangat jauh berbeda dengan model rumah kontrakan yang biasa dihuni para tersangka teroris. Rumah itu tampak tertata rapi dan asri.
Seperti suyono, astri pun membantah jika suaminya agen intelejen yang disusupkan ke gerakan islam, untuk merekayasa kasus teroris aceh, dan menyeret nama abu bakar ba'asyir.
Meskipun demikian, dalam perbincangan dengan tim kami, tofik m tohir dan nugroho dendy, astri mengakui, bahwa rumahnya pernah diinapi kawan kawan sofyan dari aceh. Dengan polos astri pun mengakui bahwa suaminya pernah melatih kawan kawannya menembak di Mako Brimob.
Tapi astri membantah, jika latihan menembak itu terkait dengan kasus terorisme. Menurut astri, latihan menembak itu adalah bagian dari bisnis hobi senjata airsoft gun yang dijalankan suaminya hingga kini.
Astri bahkan menantang balik tudingan FPI dengan melihat fakta keberadaan suaminya yang masih ditahan di sel polda metro jaya.“tidak benar itu…” katanya.
Namun, berbagai fakta dan keterangan dari rumah sofyan, justru semakin menerbitkan kecurigaan kami, tentang sepak terjang sofyan . Sebab sikap sofyan maupun isterinya terasa terlalu terbuka dan jauh berbeda dengan karakter tersangka teroris selama ini yang cenderung tertutup dan tak mudah percaya untuk diwawancarai wartawan.
Kejanggalan juga semakin jelas, karena ternyata bisnis air soft gun sofyan hingga kini terus berlangsung. Padahal, selama ini mata pencaharian tersangka teroris pasti langsung terputus, ketika mereka ditangkap. Apalagi, senjata mainan air soft gun itu adalah barang yang peka dan rawan penyalahgunaan.
Fakta bahwa sofyan hingga kini masih ditahan di Polda Metro Jaya juga menggugurkan alasan kegeraman Kadiv Humas Polri Irjen Iskandar Hasan, yang menuding aparat kejaksaan dan kehakiman tidak berkoordinasi dengan polisi untuk mengawal persidangan sofyan.
Sumber tulisan:
Judul : Fakta Janggal di Sekitar Tsauri
Penulis : Hanibal w y wijayanta
Rep/cam : Ahmad sumardjoko dkk.
http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/28/10429/beberapa-fakta-janggal-tentang-sofyan-tsauri-menurut-wartawan-antv/
Bersatu Lawan Rencana Keji Amerika di Indonesia Dengan Kedok Terorisme yang Dimotori Densus 88
Klaten, Jawa Tengah – Kaum muslimin dari berbagai elemen umat islam dan masyarakat umum se-antero Jawa Tengah pada hari ahad 26 September 2010 tumpah ruah di Kabupaten Klaten Jawa Tengah (tepatnya di antara kota Yogyakarta dan kota Surakarta/Solo) yang bertempat di masjid An-Nur Sangkal Putung Klaten untuk menghadiri seminar dan diskusi ilmiyah dengan tema “REKAYASA GLOBAL AMERIKA DI BALIK PENANGKAPAN UST ABU BAKAR BA’ASYIR DAN AKTIVIS ISLAM DI INDONESIA” dengan pembicara 1) Ust Abdul Rochim Ba’asyir dari Jama’ah Ansharut Tauhid/JAT (Ketua Sariyah Da’wah Wal I’lam JAT Pusat) dan 2) Ust Nur Alam WD dari Hizbut Tahrir Indonesia/HTI (Lajnah Islamiyah HTI Solo Raya) yang di selenggarakan oleh Sariyah Da’wah Wal I’lam JAT wilayah Jawa Tengah. Sebagai pengetahuan saja, bahwa Sariyah Da’wah Wal I’lam adalah salah satu Divisi yang berada di bawah struktural JAT yang bergerak di bidang da’wah. Divisi ini mempunyai berbagai macam Departemen, diantaranya ialah Departemen Da’wah yang membidangi da’wah untuk masyarakat umum, Departemen I’lam sebagai pusat data dan informasi lewat internet (website, blog), radio, dsb, kemudian penyebaran majalah dan buletin, serta hubungan kemasyarakatan (HUMAS).
Acara yang sekiranya akan dimulai pukul 08.00 wib ternyata diluar keinginan panitia molor sampai jam 09.00 wib karena beberapa hal. Salah satunya ialah tidak bisanya sound sistem yang akan digunakan, padahal sebelum acara dimulai jam 08.00, yaitu waktu dicoba bagian sound sudah ready semua. Kemudian waktu dipindah ke listrik yang ada di masjid bisa, akan tetapi daya untuk mengangkat kekuatan sound yang dimiliki listrik masjid tidak kuat, padahal secara akal sehat harusnya kuat. Akhirnya sound yang digunakan volume suaranya naik turun disebabkan kurangnya daya kekuatan listrik. Dari kejadian-kejadian tsb, maka panitia merasa mulai ada sesuatu hal yang tidak beres, apakah disebabkan MURNI gangguan teknis atau gangguan dari oknum atau kelompok yang tidak menyukai acara tsb berjalan sukses. Wallahu A’lam...
Akan tetapi hal tsb tidak menyurutkan langkah panitia untuk melanjutkan kegiatan dan menyurutkan semangat jama’ah yang sudah hadir. Bahkan dengan pertolongan Allah, jama’ah yang hadir baik putra maupun putri semakin lama semakin bertambah banyak. Menurut pelaksana teknis dari ikhwan JAT dan HTI yang ditunjuk panitia penyelenggara untuk mengkoordinir jama’ah, kira-kira ada 2.500an orang yang hadir dari segala lapisan masyarakat mulai tokoh-tokoh masyarakat, ‘alim ulama, dll. Sampai-sampai masjid yang di pakai tidak muat untuk menampung jama’ah yang hadir dan ada pula yang ada diluar masjid (halaman dan tempat parkir). Sebab menurut takmir masjid, ruang yang digunakan tsb biasanya bisa menampung ± 2.000 orang.
Sebelum acara inti berlangsung, ketua panitia penyelenggara yang selaku ketua Sariyah Da’wah Wal I’lam JAT wilayah Jawa Tengah (Ust Wahyu Abdurrahman) dalam kata sambutannya dan dibagi pula kepada jama’ah yang hadir secara tertulis menyampaikan sekilas tujuan di adakannya acara ini,
Ø Pertama dan yang utama, kegiatan ini di selenggarakan sebagai upaya untuk menyeimbangkan pemberitaan di media massa, baik media cetak dan terkhusus media elektronik serta TV-TV swasta yang dikuasai imperialisme barat serta zionis yahudi, berkenaan penangkapan Ust Abu Bakar Ba’asyir serta aktivis-aktivis islam di Indonesia dengan kedok TERORISME yang dilakukan Amerika yang terlalu berlebihan dalam pemberitaannya dan selalu memojokkan islam dan kaum muslimin.
Ø Kedua, sebagai upaya untuk memberikan dukungan dan do’a kepada para mujahid, keluarganya dan aktivis islam yang sedang di dholimi Densus 88, khususnya Ust ABB.
Ø Ketiga, mengajak seluruh elemen umat islam dan kaum muslimin agar bersatu padu dalam melawan kedholiman yang dilakukan Densus 88 terhadap saudara-saudara kita dari kaum muslimin serta bersikap kritis dan melihat secara fair terhadap segala pemberitaan yang ada di media massa baik cetak maupun elektronik. (secara lengkap terlampir)
Mendengar seruan pada poin ketiga tsb, sontak jama’ah yang hadir dengan suara bergemuruh menyatakan siap dan di iringi teriakan takbir, Allahu Akbar...
Pada acara inti, pembicara pertama yaitu Ust Abdul Rohim Ba’asyir (atau yang lebih akrab disapa Ust Iim) menyampaikan presentasinya berkenaan issu-issu yang mengaitkan Ust ABB yang merupakan Ayahanda beliau dengan kegiatan latihan militer di Aceh serta yang terbaru dan aktual adalah perampokan bank CIMB Niaga di Medan sebulan yang lalu. Tentang tuduhan merestui, mengetahui dan mendanai (mempunyai rekening untuk mendanai) kegiatan latihan militer di Aceh, beliau menyangkal semua fitnah tsb.
Dalam kesempatan tsb beliau menyampaikan, bagaimana mungkin Ust ABB bisa dikatakan oleh polisi ikut mendanai latihan tsb sedangkan sebagai contoh ialah jam tangan dan sandal beliau saja itu pemberian orang lain. Yang lebih lucu lagi menurut Ust iim adalah tuduhan kepemilikan rekening untuk mendanai latihan tsb, beliau menyampaikan “Beliau itu anti sekali dengan yang namanya bank, jangankan bank konvensional, bank syari’ah saja menurut Ust Abu itu masih ada unsur ribawi”. Kemudian lebih lanjut beliau menyampaikan tentang reaksi Ust Abu saat diberitahu pengacara beliau bahwa beliau terlibat perampokan bank CIMB Niaga di Medan, saat mendengar berita itu beliau hanya tertawa terbahak-bahak seraya berkata “Polisi ini ngawure wis pool, lhawong saya ada di dalam penjara kok di tuduh terlibat perampokan”.
Kemudian, inti dari apa yang disampaikan Ust Iim pada acara tersebut adalah bahwa Ayahanda beliau adalah salah satu korban dari slogan TERORISME yang dikumandangkan Salibis Amerika dan Zionis Yahudi untuk melemahkan kaum muslimin khususnya di Indonesia, agar umat islam jauh dari para ulama (semisal Ust Abu) yang akhirnya masyarakat jauh dari nilai-nilai islam dan membuang jauh-jauh syari’at islam untuk mengatur kehidupannya, yang sering di sampaikan Ust Abu melalui ceramah-ceramah beliau.
Lalu, beliau juga menyampaikan mengapa Ust Abu kok selalu dikait-kaitkan dengan kasus-kasus terorisme sejak kasus Bom Bali I (padahal waktu di persidangan tidak terbukti) dan sekarang kasus latihan militer di Aceh? Hal ini disebab konsistensi beliau sebagai seorang da’i yang teguh dalam menyampaikan kebenaran (Al-Haq) dan seruan beliau untuk kembali kepada syari’at islam dalam mengatur kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Secara lanjut beliau menyampaikan bahwa Amerika menginginkan supaya pemerintah Indonesia dengan segala cara agar menghentikan da’wah Ust Abu, DENGAN CARA DI PENJARA OK, DENGAN CARA DI BUNUH JUGA LEBIH BAIK. Sebab menurut Amerika, Ust Abu mewakili peranan Al Qaeda di Indonesia dan selalu mengganggu kepentingan barat, khususnya Amerika.
Dalam penutupan materinya, Ust Iim juga mengingatkan bahwa jika kita terus-menerus tetap menutup mata dan tidak melek (membuka mata) akan kondisi terkini terhadap apa yang telah menimpa saudara-saudara kita dari sebagian kaum muslimin yang teguh menyuarakan syari’at islam baik didalam negeri maupun diluar negeri, maka tunggu saja kitalah korban selanjutnya dari ke-beringas-an Densus 88 sebagaimana yang telah menimpa Ust Abu dan aktivis islam lainnya. Sebab, ISSU TERORISME ini tidak hanya dijalankan Amerika di Indonesia, melainkan merupakan REKAYASA GLOBAL AMERIKA untuk menghabisi umat islam di seluruh dunia dan mengeruk kekayaan alam di negeri tsb. Maka dalam presentasi penutupnya, beliau mengajak seluruh umat islam agar (secara lengkap terlampir),
1. Umat islam harus berusaha membuat media sendiri (baik cetak maupun elektronik) untuk menandingi media-media yang ada di Indonesia yang merupakan kaki tangan Amerika untuk membangun opini pencitraan buruk terhadap islam yang dilakukan Amerika, serta sebagai sarana da’wah untuk menyampaikan Al-Haq.
2. Umat islam sejak dini harus menyadari serangan yang dilakukan Amerika kepada agamanya. Sebab, slogan perang melawan terorisme yang dilakukan Amerika di seluruh dunia (termasuk di Indonesia melalui Densus 88) merupakan tampilan luar saja untuk menyerang islam dan kaum muslimin secara menyeluruh, baik serangan dari segi ekonomi, budaya dan aqidah islamiyah. Wallahu A’lam...
Kemudian, pembicara kedua yaitu Ust Nur Alam WD dari HTI menyampaikan presentasinya berkenaan rencana-rencana Amerika terhadap negeri-negeri yang mayoritas berpenduduk muslim (khusunya Indonesia) serta rekayasa global Amerika tentang penangkapan Ust ABB yang dilakukan Densus 88. Dalam kesempatan tsb, Ust Nur membagi presentasinya menjadi 3 bagian. Pertama mengenai kondisi dalam negeri setelah Ust ABB di tangkap, kedua makna teroris dalam pandangan musuh-musuh islam dan ketiga rekayasa global Amerika untuk melemahkan semangat jihad umat islam.
Pada bagian pertama presentasinya Ust Nur mengambil kesimpulan bahwa,
1. Telah terjadi opini tidak berimbang yang dikembangkan oleh media massa.
Maka dalam hal ini umat islam harus mengetahui mana berita yang sebenarnya, sekedar opini, atau bahkan kebohongan publik belaka. Dalam hal ini musuh-musuh islam di indonesia yang di motori Densus 88 dan para pembantunya memang lebih kuat, apalagi TV ONE dan METRO TV yang menjadi garda terdepan dalam masalah ini sangat lihai untuk memutar balik fakta.
1. Terjadi stigmatisasi negatif Islam dan umat islam.
Dengan adanya berita-berita di stasiun TV yang di sebut di atas, jelas secara langsung maupun tidak langsung akan berefek buruk bagi masyarakat dalam memandang islam dan kaum muslimin melalui issu bohong terorisme. Apalagi mayoritas masyarakat Indonesia sekarang ini setiap rumah mempunyai televisi, akhirnya mereka menjadi sasaran empuk untuk menghancurkan umat islam.
1. Introspeksi bagi institusi kepolisian untuk bertindak; profesional, proporsional, akuntabel, dan humanis.
2. Pengalihan opini akan kebobrokan kapitalisme liberal yang diterapkan di Indonesia.
Penangkapan Ust ABB menurut analisa beberapa analis dan pengamat publik merupakan pengalihan opini atau pengalihan issu terhadap kasus-kasus yang membelit pemerintahan sekarang, mulai dari kasus Century yang semakin tidak jelas, Rekening Gendut Polri yang seperti di telan bumi, rekayasa penangkapan Komjen Pol. Susno Duaji yang melibatkan Kapolri, dll.
1. Politik pencitraan, dengan penciptaan konflik.
Terakhir adalah untuk membuat kesan positif bagi pemerintahan SBY dan melanggengkan kekuasaannya dengan mengorbankan rakyatnya sendiri umtuk kepentingan Amerika.
Pada bagian kedua presentasinya Ust Nur menyampaikan panadangan para pengamat atau para ahli terorisme yang semuanya menurut beliau hanya omong kosong. Sebagai contoh beliau menyampaikan salah satu pernyataan Brigjend Pol. ( Purn) Drs.Ansyaad Mbai selaku Desk Anti Teror (BNPT) bahwa mindset (pola pikir) teroris adalah,
1. Para teroris menganggap bahwa proses damai untuk mendapatkan perubahan tidak akan diperoleh.
2. Karenanya cara kekerasan sah dilakukan yang penting tujuan tercapai.
Kemudian menurut versi Kepolisian, teroris adalah orang-orang yang bersenjata dan yang mempunyai mindset teroris adalah ingin memisahkan diri dari NKRI, dan membuat Otonomi dan mendirikan negara islam. Maka kalau begitu perlu kita pertanyakan, bagaimana kelompok-kelompok seperti JI, NII, Mujahidin Kompak bahkan JAT, dll bisa di katakan sebagai sarang teroris? Sedangkan seperti GAM yang ada di Aceh, OPM yang ada di Papua dan RMS yang ada di Maluku tidak di sebut sebagai teroris??? Padahal dengan jelas sekali bahwa mereka juga merupakan kelompok yang bersenjata yang ingin memisahkan diri dari NKRI dan pernah juga ditanyangkan di TV-TV Nasional aksi-aksi mereka yang menyerang para polisi.
Maka, Ust Nur dalam kesempatan tersebut menyampaikan kesimpulan bahwa Terorisme dan Terorisme Negara sama-sama di-haramkan Islam. Terorisme bukan jihad, dan jihad juga bukan terorisme. Islam mengajarkan jihad dan bahkan menetapkannya sebagai mahkota Islam (dzarwah sanam) dan mengharamkan terorisme. Maka Jihad, menurut syariat Islam, adalah
1. Qital al-Kuffar fi sabilillah li I’lai kalimati-Llah, yang memiliki hukum dan akhlak yang mulia (sumber: al-Jazairi, al-Fiqih ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah).
2. Jihad adalah perang di jalan Allah; sasarannya orang Kafir yang memusuhi dan menghalangi Islam; motivasinya untuk menjunjung kalimah Allah.
Jihad merupakan langkah terakhir setelah:
1. Dakwah untuk memeluk Islam yang disampaikan kepada mereka ditolak;
2. Dakwah untuk bersedia hidup dalam naungan Islam, dengan tetap memeluk agama dan keyakinannya mereka tolak;
3. Jika kedua alternatif tadi mereka terima, maka mereka haram diperangi;
4. Atau ketika umat Islam diperangi secara fisik, seperti di Palestina, Afganistan, dan Irak.
5. Dalam berjihad, diharamkan membunuh anak-anak, wanita, orang tua, merusak bangunan, rumah ibadah, pohon, dll..
6. Bandingkan dengan invasi AS, Inggeris dan sekutunya. Di Irak :
Ø Ratusan ribu anak-anak, wanita, orang tua dan penduduk sipil lain tewas;
Ø Ribuan anak-anak lahir cacat, akibat radiasi senjata pemusnah masal yang mereka gunakan;
Ø Ribuan bangunan hancur dan porak-poranda; kesucian al-Qur’an dan masjid diinjak-injak, kehormatan wanita dicabuli.. Wallahu A’lam...
Inikah peradaban sampah yang mereka agung-agungkan, dan hendak dijual di negeri muslim?
Jadi, siapa Teroris Sebenarnya?
Bagian terakhir dari penyampaikan materi Ust Nur fokus kepada strategi global Amerika dalam mengokokohkan kakinya dan kepentinganya di negeri kaum muslimin untuk menguasai negeri tsb melalui rekayasa-rekayasa busuknya baik dalam segi politik demokrasinya, perdagangan dan ekonomi kapitalisnya, budaya glamorisnya, kebebasan beragamanya serta yang paling keji adalah mematikan semangat jihad kaum muslimin dengan membuat pencitraan buruk terhadap islam melalui issu Terorisme.
Dalam penutup materi yang beliau sampaikan, beliau mengajak seluruh kaum muslimin agar :
1. Mewujudkan persatuan dan kesatuan umat yang solid: Jangan sampai dipecah belah. Islam hanya satu; Islam is Islam.
2. Umat Islam harus memiliki kesadaran yang sahih tentang Islam, dan kesadaran politik yang tinggi.
3. Metode dakwah untuk melakukan perubahan adalah: fikriyah (intelektual), siyasiyyah (politis), la unfiyah (non-kekerasan) dalam jamaah yang solid. Wallahu A’lam... (secara lengkap terlampir)
Alhamdulillahi robbil ‘alamin...
Klaten, 26 September 2010/17 Syawwal 1431
Oleh : Bekti Sejati
NB : Bagi kaum muslimin yang menginginkan VCD pada acara tsb, dapat SMS atau menghubungi nomor HP 085 225 600 728 atau redaksi situs yang memuat berita ini. Segala keuntungan akan disalurkan untuk infaq fie sabilillah. Setelah memesan, uang di transfer dahulu baru barang akan di kirim. Syukron...
[muslimdaily.net]
Acara yang sekiranya akan dimulai pukul 08.00 wib ternyata diluar keinginan panitia molor sampai jam 09.00 wib karena beberapa hal. Salah satunya ialah tidak bisanya sound sistem yang akan digunakan, padahal sebelum acara dimulai jam 08.00, yaitu waktu dicoba bagian sound sudah ready semua. Kemudian waktu dipindah ke listrik yang ada di masjid bisa, akan tetapi daya untuk mengangkat kekuatan sound yang dimiliki listrik masjid tidak kuat, padahal secara akal sehat harusnya kuat. Akhirnya sound yang digunakan volume suaranya naik turun disebabkan kurangnya daya kekuatan listrik. Dari kejadian-kejadian tsb, maka panitia merasa mulai ada sesuatu hal yang tidak beres, apakah disebabkan MURNI gangguan teknis atau gangguan dari oknum atau kelompok yang tidak menyukai acara tsb berjalan sukses. Wallahu A’lam...
Akan tetapi hal tsb tidak menyurutkan langkah panitia untuk melanjutkan kegiatan dan menyurutkan semangat jama’ah yang sudah hadir. Bahkan dengan pertolongan Allah, jama’ah yang hadir baik putra maupun putri semakin lama semakin bertambah banyak. Menurut pelaksana teknis dari ikhwan JAT dan HTI yang ditunjuk panitia penyelenggara untuk mengkoordinir jama’ah, kira-kira ada 2.500an orang yang hadir dari segala lapisan masyarakat mulai tokoh-tokoh masyarakat, ‘alim ulama, dll. Sampai-sampai masjid yang di pakai tidak muat untuk menampung jama’ah yang hadir dan ada pula yang ada diluar masjid (halaman dan tempat parkir). Sebab menurut takmir masjid, ruang yang digunakan tsb biasanya bisa menampung ± 2.000 orang.
Sebelum acara inti berlangsung, ketua panitia penyelenggara yang selaku ketua Sariyah Da’wah Wal I’lam JAT wilayah Jawa Tengah (Ust Wahyu Abdurrahman) dalam kata sambutannya dan dibagi pula kepada jama’ah yang hadir secara tertulis menyampaikan sekilas tujuan di adakannya acara ini,
Ø Pertama dan yang utama, kegiatan ini di selenggarakan sebagai upaya untuk menyeimbangkan pemberitaan di media massa, baik media cetak dan terkhusus media elektronik serta TV-TV swasta yang dikuasai imperialisme barat serta zionis yahudi, berkenaan penangkapan Ust Abu Bakar Ba’asyir serta aktivis-aktivis islam di Indonesia dengan kedok TERORISME yang dilakukan Amerika yang terlalu berlebihan dalam pemberitaannya dan selalu memojokkan islam dan kaum muslimin.
Ø Kedua, sebagai upaya untuk memberikan dukungan dan do’a kepada para mujahid, keluarganya dan aktivis islam yang sedang di dholimi Densus 88, khususnya Ust ABB.
Ø Ketiga, mengajak seluruh elemen umat islam dan kaum muslimin agar bersatu padu dalam melawan kedholiman yang dilakukan Densus 88 terhadap saudara-saudara kita dari kaum muslimin serta bersikap kritis dan melihat secara fair terhadap segala pemberitaan yang ada di media massa baik cetak maupun elektronik. (secara lengkap terlampir)
Mendengar seruan pada poin ketiga tsb, sontak jama’ah yang hadir dengan suara bergemuruh menyatakan siap dan di iringi teriakan takbir, Allahu Akbar...
Pada acara inti, pembicara pertama yaitu Ust Abdul Rohim Ba’asyir (atau yang lebih akrab disapa Ust Iim) menyampaikan presentasinya berkenaan issu-issu yang mengaitkan Ust ABB yang merupakan Ayahanda beliau dengan kegiatan latihan militer di Aceh serta yang terbaru dan aktual adalah perampokan bank CIMB Niaga di Medan sebulan yang lalu. Tentang tuduhan merestui, mengetahui dan mendanai (mempunyai rekening untuk mendanai) kegiatan latihan militer di Aceh, beliau menyangkal semua fitnah tsb.
Dalam kesempatan tsb beliau menyampaikan, bagaimana mungkin Ust ABB bisa dikatakan oleh polisi ikut mendanai latihan tsb sedangkan sebagai contoh ialah jam tangan dan sandal beliau saja itu pemberian orang lain. Yang lebih lucu lagi menurut Ust iim adalah tuduhan kepemilikan rekening untuk mendanai latihan tsb, beliau menyampaikan “Beliau itu anti sekali dengan yang namanya bank, jangankan bank konvensional, bank syari’ah saja menurut Ust Abu itu masih ada unsur ribawi”. Kemudian lebih lanjut beliau menyampaikan tentang reaksi Ust Abu saat diberitahu pengacara beliau bahwa beliau terlibat perampokan bank CIMB Niaga di Medan, saat mendengar berita itu beliau hanya tertawa terbahak-bahak seraya berkata “Polisi ini ngawure wis pool, lhawong saya ada di dalam penjara kok di tuduh terlibat perampokan”.
Kemudian, inti dari apa yang disampaikan Ust Iim pada acara tersebut adalah bahwa Ayahanda beliau adalah salah satu korban dari slogan TERORISME yang dikumandangkan Salibis Amerika dan Zionis Yahudi untuk melemahkan kaum muslimin khususnya di Indonesia, agar umat islam jauh dari para ulama (semisal Ust Abu) yang akhirnya masyarakat jauh dari nilai-nilai islam dan membuang jauh-jauh syari’at islam untuk mengatur kehidupannya, yang sering di sampaikan Ust Abu melalui ceramah-ceramah beliau.
Lalu, beliau juga menyampaikan mengapa Ust Abu kok selalu dikait-kaitkan dengan kasus-kasus terorisme sejak kasus Bom Bali I (padahal waktu di persidangan tidak terbukti) dan sekarang kasus latihan militer di Aceh? Hal ini disebab konsistensi beliau sebagai seorang da’i yang teguh dalam menyampaikan kebenaran (Al-Haq) dan seruan beliau untuk kembali kepada syari’at islam dalam mengatur kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Secara lanjut beliau menyampaikan bahwa Amerika menginginkan supaya pemerintah Indonesia dengan segala cara agar menghentikan da’wah Ust Abu, DENGAN CARA DI PENJARA OK, DENGAN CARA DI BUNUH JUGA LEBIH BAIK. Sebab menurut Amerika, Ust Abu mewakili peranan Al Qaeda di Indonesia dan selalu mengganggu kepentingan barat, khususnya Amerika.
Dalam penutupan materinya, Ust Iim juga mengingatkan bahwa jika kita terus-menerus tetap menutup mata dan tidak melek (membuka mata) akan kondisi terkini terhadap apa yang telah menimpa saudara-saudara kita dari sebagian kaum muslimin yang teguh menyuarakan syari’at islam baik didalam negeri maupun diluar negeri, maka tunggu saja kitalah korban selanjutnya dari ke-beringas-an Densus 88 sebagaimana yang telah menimpa Ust Abu dan aktivis islam lainnya. Sebab, ISSU TERORISME ini tidak hanya dijalankan Amerika di Indonesia, melainkan merupakan REKAYASA GLOBAL AMERIKA untuk menghabisi umat islam di seluruh dunia dan mengeruk kekayaan alam di negeri tsb. Maka dalam presentasi penutupnya, beliau mengajak seluruh umat islam agar (secara lengkap terlampir),
1. Umat islam harus berusaha membuat media sendiri (baik cetak maupun elektronik) untuk menandingi media-media yang ada di Indonesia yang merupakan kaki tangan Amerika untuk membangun opini pencitraan buruk terhadap islam yang dilakukan Amerika, serta sebagai sarana da’wah untuk menyampaikan Al-Haq.
2. Umat islam sejak dini harus menyadari serangan yang dilakukan Amerika kepada agamanya. Sebab, slogan perang melawan terorisme yang dilakukan Amerika di seluruh dunia (termasuk di Indonesia melalui Densus 88) merupakan tampilan luar saja untuk menyerang islam dan kaum muslimin secara menyeluruh, baik serangan dari segi ekonomi, budaya dan aqidah islamiyah. Wallahu A’lam...
Kemudian, pembicara kedua yaitu Ust Nur Alam WD dari HTI menyampaikan presentasinya berkenaan rencana-rencana Amerika terhadap negeri-negeri yang mayoritas berpenduduk muslim (khusunya Indonesia) serta rekayasa global Amerika tentang penangkapan Ust ABB yang dilakukan Densus 88. Dalam kesempatan tsb, Ust Nur membagi presentasinya menjadi 3 bagian. Pertama mengenai kondisi dalam negeri setelah Ust ABB di tangkap, kedua makna teroris dalam pandangan musuh-musuh islam dan ketiga rekayasa global Amerika untuk melemahkan semangat jihad umat islam.
Pada bagian pertama presentasinya Ust Nur mengambil kesimpulan bahwa,
1. Telah terjadi opini tidak berimbang yang dikembangkan oleh media massa.
Maka dalam hal ini umat islam harus mengetahui mana berita yang sebenarnya, sekedar opini, atau bahkan kebohongan publik belaka. Dalam hal ini musuh-musuh islam di indonesia yang di motori Densus 88 dan para pembantunya memang lebih kuat, apalagi TV ONE dan METRO TV yang menjadi garda terdepan dalam masalah ini sangat lihai untuk memutar balik fakta.
1. Terjadi stigmatisasi negatif Islam dan umat islam.
Dengan adanya berita-berita di stasiun TV yang di sebut di atas, jelas secara langsung maupun tidak langsung akan berefek buruk bagi masyarakat dalam memandang islam dan kaum muslimin melalui issu bohong terorisme. Apalagi mayoritas masyarakat Indonesia sekarang ini setiap rumah mempunyai televisi, akhirnya mereka menjadi sasaran empuk untuk menghancurkan umat islam.
1. Introspeksi bagi institusi kepolisian untuk bertindak; profesional, proporsional, akuntabel, dan humanis.
2. Pengalihan opini akan kebobrokan kapitalisme liberal yang diterapkan di Indonesia.
Penangkapan Ust ABB menurut analisa beberapa analis dan pengamat publik merupakan pengalihan opini atau pengalihan issu terhadap kasus-kasus yang membelit pemerintahan sekarang, mulai dari kasus Century yang semakin tidak jelas, Rekening Gendut Polri yang seperti di telan bumi, rekayasa penangkapan Komjen Pol. Susno Duaji yang melibatkan Kapolri, dll.
1. Politik pencitraan, dengan penciptaan konflik.
Terakhir adalah untuk membuat kesan positif bagi pemerintahan SBY dan melanggengkan kekuasaannya dengan mengorbankan rakyatnya sendiri umtuk kepentingan Amerika.
Pada bagian kedua presentasinya Ust Nur menyampaikan panadangan para pengamat atau para ahli terorisme yang semuanya menurut beliau hanya omong kosong. Sebagai contoh beliau menyampaikan salah satu pernyataan Brigjend Pol. ( Purn) Drs.Ansyaad Mbai selaku Desk Anti Teror (BNPT) bahwa mindset (pola pikir) teroris adalah,
1. Para teroris menganggap bahwa proses damai untuk mendapatkan perubahan tidak akan diperoleh.
2. Karenanya cara kekerasan sah dilakukan yang penting tujuan tercapai.
Kemudian menurut versi Kepolisian, teroris adalah orang-orang yang bersenjata dan yang mempunyai mindset teroris adalah ingin memisahkan diri dari NKRI, dan membuat Otonomi dan mendirikan negara islam. Maka kalau begitu perlu kita pertanyakan, bagaimana kelompok-kelompok seperti JI, NII, Mujahidin Kompak bahkan JAT, dll bisa di katakan sebagai sarang teroris? Sedangkan seperti GAM yang ada di Aceh, OPM yang ada di Papua dan RMS yang ada di Maluku tidak di sebut sebagai teroris??? Padahal dengan jelas sekali bahwa mereka juga merupakan kelompok yang bersenjata yang ingin memisahkan diri dari NKRI dan pernah juga ditanyangkan di TV-TV Nasional aksi-aksi mereka yang menyerang para polisi.
Maka, Ust Nur dalam kesempatan tersebut menyampaikan kesimpulan bahwa Terorisme dan Terorisme Negara sama-sama di-haramkan Islam. Terorisme bukan jihad, dan jihad juga bukan terorisme. Islam mengajarkan jihad dan bahkan menetapkannya sebagai mahkota Islam (dzarwah sanam) dan mengharamkan terorisme. Maka Jihad, menurut syariat Islam, adalah
1. Qital al-Kuffar fi sabilillah li I’lai kalimati-Llah, yang memiliki hukum dan akhlak yang mulia (sumber: al-Jazairi, al-Fiqih ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah).
2. Jihad adalah perang di jalan Allah; sasarannya orang Kafir yang memusuhi dan menghalangi Islam; motivasinya untuk menjunjung kalimah Allah.
Jihad merupakan langkah terakhir setelah:
1. Dakwah untuk memeluk Islam yang disampaikan kepada mereka ditolak;
2. Dakwah untuk bersedia hidup dalam naungan Islam, dengan tetap memeluk agama dan keyakinannya mereka tolak;
3. Jika kedua alternatif tadi mereka terima, maka mereka haram diperangi;
4. Atau ketika umat Islam diperangi secara fisik, seperti di Palestina, Afganistan, dan Irak.
5. Dalam berjihad, diharamkan membunuh anak-anak, wanita, orang tua, merusak bangunan, rumah ibadah, pohon, dll..
6. Bandingkan dengan invasi AS, Inggeris dan sekutunya. Di Irak :
Ø Ratusan ribu anak-anak, wanita, orang tua dan penduduk sipil lain tewas;
Ø Ribuan anak-anak lahir cacat, akibat radiasi senjata pemusnah masal yang mereka gunakan;
Ø Ribuan bangunan hancur dan porak-poranda; kesucian al-Qur’an dan masjid diinjak-injak, kehormatan wanita dicabuli.. Wallahu A’lam...
Inikah peradaban sampah yang mereka agung-agungkan, dan hendak dijual di negeri muslim?
Jadi, siapa Teroris Sebenarnya?
Bagian terakhir dari penyampaikan materi Ust Nur fokus kepada strategi global Amerika dalam mengokokohkan kakinya dan kepentinganya di negeri kaum muslimin untuk menguasai negeri tsb melalui rekayasa-rekayasa busuknya baik dalam segi politik demokrasinya, perdagangan dan ekonomi kapitalisnya, budaya glamorisnya, kebebasan beragamanya serta yang paling keji adalah mematikan semangat jihad kaum muslimin dengan membuat pencitraan buruk terhadap islam melalui issu Terorisme.
Dalam penutup materi yang beliau sampaikan, beliau mengajak seluruh kaum muslimin agar :
1. Mewujudkan persatuan dan kesatuan umat yang solid: Jangan sampai dipecah belah. Islam hanya satu; Islam is Islam.
2. Umat Islam harus memiliki kesadaran yang sahih tentang Islam, dan kesadaran politik yang tinggi.
3. Metode dakwah untuk melakukan perubahan adalah: fikriyah (intelektual), siyasiyyah (politis), la unfiyah (non-kekerasan) dalam jamaah yang solid. Wallahu A’lam... (secara lengkap terlampir)
Alhamdulillahi robbil ‘alamin...
Klaten, 26 September 2010/17 Syawwal 1431
Oleh : Bekti Sejati
NB : Bagi kaum muslimin yang menginginkan VCD pada acara tsb, dapat SMS atau menghubungi nomor HP 085 225 600 728 atau redaksi situs yang memuat berita ini. Segala keuntungan akan disalurkan untuk infaq fie sabilillah. Setelah memesan, uang di transfer dahulu baru barang akan di kirim. Syukron...
[muslimdaily.net]
Densus 88 Dan Perang Melawan Islam
Densus 88 Dan Perang Melawan Islam
Oleh: Amran Nasution
Isu Densus 88 akan diinvestigasi oleh Australia mencuat. Gara-garanya Australia tidak terima atas perlakuan Densus terhadap separatis RMS. Autralia marah, sebab sebagaimana diakui oleh Kabidpenum Mabes Polri Kombes (pol) Marwoto Suto, negara itu memang mempunyai andil terhadap Densus dengan memberikan sejumlah paket bantuan untuk palatihan. Tentu saja ini adalah pengakuan terbaru dari pihak kepolisian. Selain Australia, penyandang dana Densus 88 adalah Amerika Serikat.
Untuk sekedar mengingatkan pembaca, kami menurunkan kembali tulisan jurnalis senior yang juga mantan Redpel Tempo, Amran Nasution, tentang Densus 88 dan Perang Melawan Islam yang beberapa tahun lalu dimuat di Tabloid Suara Islam. Selamat membaca!. (redaksi suara islam.com)
Detasemen Khusus (Densus 88) Anti-Teror Polri ternyata dibentuk atas biaya sepenuhnya dari pemerintah Amerika Serikat. Majalah “Far Eastern Ekonomic Review“ (FEER), edisi 13 November 2003, menulis bahwa pemerintahan Bush mengeluarkan biaya 16 juta dolar (Rp 150 Milyar ) Untuk membentuk detasemen yang punya 400 Anggota itu. Hal yang sama ditulis Koran “ Jakarta Post”, 6 September 2004, dan “Warta Kota”, 12 November 2003.
Laporan Congressional Research Service (CRS), Lembaga riset di bawah The Library Of Congress pada tahun 2005, memaparkan dengan rinci dana yang di keluarkan pemerintah Bush untuk Indonesia, termasuk untuk polri dan pasukan Anti – terornya. Misalnya, pada tahun 2004, Amerika Serikat memberikan bantuan $US. 5.778.000 tahun 2005 sebesar $ US 5.300.000.
Kenapa bantuan rutin diberikan? Karena Indonesia dianggap berjasa di dalam perang melawan teror. “Kontribusi Indonesia untuk “global war on terror “ adalah kepentingan vital Amerika Serikat,“ tulis laporan itu .
Melihat fakta dan data di atas, muncul pertanyaan : Bolehkah Polisi Kita bekerja sesuai dengan keinginan asing? pertanyaan kedua: bila itu benar, tidakkah itu bertentangan dengan UUD 1945?. Pertanyaan-pertanyaan itu bertambah penting, karena sekarang sudah terbukti, “ War on terror” adalah “ War on Islam” atau perang untuk menghancurkan Islam.
GLOBAL WAR ON ISLAM
Perang melawan teror diproklamirkan Presiden George W. Bush 20 September 2001. “Perang melawan teror tak akan berhenti sampai semua group teroris dunia ditemukan, dihentikan dan dikalahkan,” kata Bush. Pada kesempatan itu, Bush tak lupa menguraikan bahwa perang melawan teror adalah “crusade” Alias perang salib. Itulah perang tentara Islam dengan Kristen 1000 tahun lalu, untuk memperebutkan Yerusalem.
Proklamasi perang itu diikuti pengarahan pesawat tempur membombardir Afganistan, Oktober 2001, dengan dalih untuk menghancurkan teroris Al-Qaedah, Pemimpinya Syaikh Osama Bin Laden , serta Rezim Taliban yang melindunginya.
Tak terhitung korban sipil yang jatuh. Afghanistan kemudian dijajah Amerika Serikat dan sekutunya. Sekitar 2.1 Juta warganya jadi Pengungsi ke Iran atau Negara lain. “War On Teroris” dilanjutkan dengan menyerang Irak pada 2003.
Untuk melengkapi infrastrukturnya dalam perang ini, Bush mendirikan penjara di Teluk Guantanamo, Kuba, dan penjara rahasia di Eropa dan Asia. Waktu menyerang Afghanistan, Bush berdalih untuk memburu Al-Qaeda. Lalu menyerang Irak karena Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Ternyata semua itu bohong. Senjata itu tak pernah ditemukan.
Di Palestina, Amerika dan sekutunya Israel mengadu Fatah dengan Hamas, Sunni diadu dengan Syiah di Lebanon dan Irak. Somalia, Negeri Islam yang amat miskin, di obrak-abrik. Survei yang dilakukan Zogby International, untuk Georgetown University, guna mengetahui sikap masyarakat muslim Amerika Serikat pada 2004, menunjukkan, mayoritas (38%) responden percaya bahwa sebenarnya “War on Terror “ itu adalah “ War On Islam”.
Menurut Zahid Buchari, Direktur Survei Zogby International, munculnya persepsi “War On Islam” akibat pernyataan menyerang Islam dari para pendeta pemimpin Kristen Evangelical Amerika Serikat, seperti Pat Robertson, Jerry Palwell (meninggal beberapa bulan lalu), dan Franklin Graham.
Padahal para pendeta itu dekat sekali secara politik dengan Gedung Putih, terutama dengan Presiden Bush. Buku “America Theocracy” (2006) yang ditulis Kevin Phillips, mantan ahli strategi partai Republik, bahkan menyebutkan, kini Partai Republik merupakan partai Kristen Fundamentalis pertama di dalam sejarah Amerika Serikat. Segepok indikator dan bukti ada di dalam buku itu. Dalam konteks ini menjadi jelas kenapa Bush menyamakan “War On Terror” dengan Perang Salib.
Survey oleh WorldPublicOpinion.org yang tadi dikutip di atas – didukung START Concortium dari University Of Maryland, menunjukkan bagaimana sikap umat Islam terhadap politik luar negeri Amerika. Survey dilakukan dengan jajak pendapat mendalam (in-depth poll) di empat Negara berpenduduk mayoritas Islam: Indonesia, Mesir, Maroko, dan Pakistan, dari Desember 2006 sampai Februari 2007.
Hasilnya, Mayoritas responden 4 negara itu, percaya bahwa Amerika Serikat berusaha menghancurkan dan memecah belah dunia Islam. Responden yang berpendapat seperti itu rata-rata 79 % dari mulai Indonesia 73 % sampai Mesir 92 %.
Dalam presentase yang sama besar (rata-rata 79%), Responden berpendapat, Amerika Serikat sedang berusaha menguasai sumber-sumber minyak di Timur Tengah. Malah dalam jumlah cukup besar (rata-rata 64 %), responden percaya bahwa tujuan Amerika Serikat adalah untuk menyebarkan Kristen di Timur Tengah.
Maka Arab Saudi yang selama ini dikenal dekat dengan Amerika Serikat kini tampak mulai bersikap lain. Koran “USA TODAY”, 1 September 2006, membuat laporan ketika Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi, Sheik Abdul-Aziz Al-Sheik, berkhutbah di Padang Arafah di musim haji 2006, yang dibanjiri lebih dari 2 juta jemaah.
Suara ulama ini biasanya mirip sikap pemerintahannya. Nah, ia mengatakan Umat Islam sekarang sedang menghadapi tantangan yang gawat : dituduh teroris, melanggar hak asasi manusia, dan disuruh merevisi buku teks di sekolahannya “Oh bangsa Muslim, sekarang ada perang terhadap keimanan kita, terhadap budaya kita, dengan dalih palsu memerangi terorisme. Kita harus tabah dan bersatu untuk mempertahankan agama kita. Musuh-musuh Islam ingin mengubah Islam itu dengan nilai-nilai dan penafsirannya, tapi tentara Allah pasti akan menang“ katanya. Terdengar teriakan “amin” membahana di padang gersang
KEBEBASAN JADI DALIH
Majalah mingguan Al Ahram mengangap kecaman Paus Benedict XVI yang menyebutkan Islam disebarkan dengan Pedang, Karikatur Koran Denmark yang melecehkan Rasulullah, berita “ the daily telegraph “ yang menuding nabi, semua adalah bagian dari perang melawan teror .
Bukankah itu kebebasan berekspresi? koran tadi menolaknya. Ditunjukkan bukti, bagaimana sekarang setidaknya 12 negara Eropa menyeret siapa saja ke dalam penjara bila berani mengkritik kebenaran “holocaust“. Pembunuhan orang Yahudi pada Perang Dunia II oleh Jerman. Di mana kebebasan bereksipresi?
Di antara Negara Eropa dimaksud adalah Perancis, Jerman, Italia, Belgia, Austria dan Polandia. Di sana, sekalipun anda peneliti sejarah bergelar doctor, akan dijebloskan ke penjara, bila mengkritik kebenaran “holocaust” ancaman hukumannya tak main-main. Mulai paling ringan, 15 bulan di Swiss sampai terberat 20 tahun penjara di Austria. Dan korbannya sudah banyak .
Di dalam laporan tahunan yang dimuat di Koran Inggris, “The Guardian” 23 Mei 2006, Amnesty International menyerang habis penjara Guantananmo. Amnesty menjulukinya Gulag hari ini (“Gulag Of Today”). Gulag adalah kamp tahanan Uni Soviet untuk lawan politik pemerintah. Sekarang Amerika punya “Gulag of Today”, simbol keangkuhan dan kesewenang-wenangan Negara “Super Power”.
Di sana terdapat hampir 400 tahanan yang ditangkap dari seluruh dunia. Mereka ditahan tanpa jelas tuduhannya, tak bisa ditemui (termasuk oleh pengacara) dan sudah 5 tahun tak dibawa ke pengadilan. Harap catat: semuanya beragama Islam.
Apalagi laporan dari Guantanamo menyebutkan di sana terjadi penyiksaan, penghinaan martabat manusia, serta pelecehan terhadap agama Islam yang luar biasa. Kitab suci Al-Qur’an di masukkan ke dalam kloset. Tujuannya agar tersangka marah dan terpancing buka mulut. Bacalah buku “For God and Country : Faith dan Patriotism Under Fire” tulisan James Yee dan Aimee Molloy (2005)
UNTUK MINYAK DAN ISRAEL
Kenapa Afghanistan dan Irak dihancurkan? kenapa ada “war on terror “? wartawan terkenal Craig Unger dalam bukunya “House of Bush, House of Saud“ (2004) menyederhanakan pilar kebijakan politik Amerika di Timur Tengah, cuma dengan dua kata: minyak dan Israel. Setiap langkah negeri itu, pasti berhubungan dengan minyak. Kalau tidak, dengan Israel, sekutu strategisnya sejak Perang Dunia II.
Oleh karenanya Palestina dan Lebanon harus di pecah-belah. Bila keduanya kuat akan mengancam Israel. Iran dan Syria harus diremukkan sebab selalu mengancam negeri Yahudi itu. Bila Iran sekarang di keroyok dan dipojokkan di Dewan Keamanan PBB dengan dalih pengadaan Uranium, itu cuma alasan yang dibuat-buat. Besok pun, urusan itu bisa diklirkan, asal Iran berbaik-baik dengan Israel. Apalagi kalau minyaknya di serahkan kepada perusahaan Amerika .
Ketika Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddeg yang terpilih secara demokratis, menasionalisasikan perusahaan minyak di negerinya, ia segerah dituduh main mata dengan negeri komunis Uni Soviet. Operator CIA pun bergerak.
Operasi itu dipimpin Kermit “kim” Roosevelt, cucu mantan Presiden Teddy Rosevelt. Maka dollar pun ditebar untuk menghasut orang, tapi terutama untuk mendirikan atau membeli koran dan wartawan. Tiba-tiba saja bermunculan banyak koran baru di Teheran, dan dengan galak menyerang Perdana Menteri Mosaddeg.
Orang-orang Kim Roosevelt menggarap para jenderal untuk melakukan kudeta. Seperti tercatat dalam sejarah, aksi CIA itu berhasil. Agustus 1953, huru hara pecah di negeri itu, dan Musaddeg ditumbangkan . Shah Iran yang sudah lari ke Roma, dipanggil pulang, dinobatkan menjadi raja. Bila diamati, apa yang terjadi mirip dengan peristiwa mei 1998 di Indonesia, dengan kasus US$ 26 Juta dari Amerika itu.
Semua ini bukan teori konspirasi, apa yang terjadi – 47 tahun kemudian – diakui secara terbuka oleh Madeleine Al-bright, Menteri Luar Negeri di masa Presiden Clinton. “Pada 1953, Amerika memainkan peran yang signifikan, untuk menjatuhkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddeg yang popular,“ kata Albright dalam suatu acara di Hotel Omni Shoreham, Washington, 17 Maret 2000 (Kenneth M.Pollack, “ The Persian Puzzle”, 2004)
Kisah seperti inilah sesungguhnya yang terjadi di balik “War on Terror”, bisa di baca buku “Failed States”, dan lebih detil di dalam “America Theocracy”. Penyerbuan terhadap Afghanistan dan Irak sudah di rencanakan sebelum terjadi serangan terror 11 September. Keduanya karena alasannya minyak.
Pertanyaanya sekarang, apakah polisi kita harus ikut menjadi bagian dari perang seperti ini ??
http://www.suara-islam.com/news/muhasabah/analisis-kontemporer/1153-densus-88-dan-perang-melawan-islam-
http://freeabb.com/2010/09/densus-88-dan-perang-melawan-islam/
Oleh: Amran Nasution
Isu Densus 88 akan diinvestigasi oleh Australia mencuat. Gara-garanya Australia tidak terima atas perlakuan Densus terhadap separatis RMS. Autralia marah, sebab sebagaimana diakui oleh Kabidpenum Mabes Polri Kombes (pol) Marwoto Suto, negara itu memang mempunyai andil terhadap Densus dengan memberikan sejumlah paket bantuan untuk palatihan. Tentu saja ini adalah pengakuan terbaru dari pihak kepolisian. Selain Australia, penyandang dana Densus 88 adalah Amerika Serikat.
Untuk sekedar mengingatkan pembaca, kami menurunkan kembali tulisan jurnalis senior yang juga mantan Redpel Tempo, Amran Nasution, tentang Densus 88 dan Perang Melawan Islam yang beberapa tahun lalu dimuat di Tabloid Suara Islam. Selamat membaca!. (redaksi suara islam.com)
Detasemen Khusus (Densus 88) Anti-Teror Polri ternyata dibentuk atas biaya sepenuhnya dari pemerintah Amerika Serikat. Majalah “Far Eastern Ekonomic Review“ (FEER), edisi 13 November 2003, menulis bahwa pemerintahan Bush mengeluarkan biaya 16 juta dolar (Rp 150 Milyar ) Untuk membentuk detasemen yang punya 400 Anggota itu. Hal yang sama ditulis Koran “ Jakarta Post”, 6 September 2004, dan “Warta Kota”, 12 November 2003.
Laporan Congressional Research Service (CRS), Lembaga riset di bawah The Library Of Congress pada tahun 2005, memaparkan dengan rinci dana yang di keluarkan pemerintah Bush untuk Indonesia, termasuk untuk polri dan pasukan Anti – terornya. Misalnya, pada tahun 2004, Amerika Serikat memberikan bantuan $US. 5.778.000 tahun 2005 sebesar $ US 5.300.000.
Kenapa bantuan rutin diberikan? Karena Indonesia dianggap berjasa di dalam perang melawan teror. “Kontribusi Indonesia untuk “global war on terror “ adalah kepentingan vital Amerika Serikat,“ tulis laporan itu .
Melihat fakta dan data di atas, muncul pertanyaan : Bolehkah Polisi Kita bekerja sesuai dengan keinginan asing? pertanyaan kedua: bila itu benar, tidakkah itu bertentangan dengan UUD 1945?. Pertanyaan-pertanyaan itu bertambah penting, karena sekarang sudah terbukti, “ War on terror” adalah “ War on Islam” atau perang untuk menghancurkan Islam.
GLOBAL WAR ON ISLAM
Perang melawan teror diproklamirkan Presiden George W. Bush 20 September 2001. “Perang melawan teror tak akan berhenti sampai semua group teroris dunia ditemukan, dihentikan dan dikalahkan,” kata Bush. Pada kesempatan itu, Bush tak lupa menguraikan bahwa perang melawan teror adalah “crusade” Alias perang salib. Itulah perang tentara Islam dengan Kristen 1000 tahun lalu, untuk memperebutkan Yerusalem.
Proklamasi perang itu diikuti pengarahan pesawat tempur membombardir Afganistan, Oktober 2001, dengan dalih untuk menghancurkan teroris Al-Qaedah, Pemimpinya Syaikh Osama Bin Laden , serta Rezim Taliban yang melindunginya.
Tak terhitung korban sipil yang jatuh. Afghanistan kemudian dijajah Amerika Serikat dan sekutunya. Sekitar 2.1 Juta warganya jadi Pengungsi ke Iran atau Negara lain. “War On Teroris” dilanjutkan dengan menyerang Irak pada 2003.
Untuk melengkapi infrastrukturnya dalam perang ini, Bush mendirikan penjara di Teluk Guantanamo, Kuba, dan penjara rahasia di Eropa dan Asia. Waktu menyerang Afghanistan, Bush berdalih untuk memburu Al-Qaeda. Lalu menyerang Irak karena Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Ternyata semua itu bohong. Senjata itu tak pernah ditemukan.
Di Palestina, Amerika dan sekutunya Israel mengadu Fatah dengan Hamas, Sunni diadu dengan Syiah di Lebanon dan Irak. Somalia, Negeri Islam yang amat miskin, di obrak-abrik. Survei yang dilakukan Zogby International, untuk Georgetown University, guna mengetahui sikap masyarakat muslim Amerika Serikat pada 2004, menunjukkan, mayoritas (38%) responden percaya bahwa sebenarnya “War on Terror “ itu adalah “ War On Islam”.
Menurut Zahid Buchari, Direktur Survei Zogby International, munculnya persepsi “War On Islam” akibat pernyataan menyerang Islam dari para pendeta pemimpin Kristen Evangelical Amerika Serikat, seperti Pat Robertson, Jerry Palwell (meninggal beberapa bulan lalu), dan Franklin Graham.
Padahal para pendeta itu dekat sekali secara politik dengan Gedung Putih, terutama dengan Presiden Bush. Buku “America Theocracy” (2006) yang ditulis Kevin Phillips, mantan ahli strategi partai Republik, bahkan menyebutkan, kini Partai Republik merupakan partai Kristen Fundamentalis pertama di dalam sejarah Amerika Serikat. Segepok indikator dan bukti ada di dalam buku itu. Dalam konteks ini menjadi jelas kenapa Bush menyamakan “War On Terror” dengan Perang Salib.
Survey oleh WorldPublicOpinion.org yang tadi dikutip di atas – didukung START Concortium dari University Of Maryland, menunjukkan bagaimana sikap umat Islam terhadap politik luar negeri Amerika. Survey dilakukan dengan jajak pendapat mendalam (in-depth poll) di empat Negara berpenduduk mayoritas Islam: Indonesia, Mesir, Maroko, dan Pakistan, dari Desember 2006 sampai Februari 2007.
Hasilnya, Mayoritas responden 4 negara itu, percaya bahwa Amerika Serikat berusaha menghancurkan dan memecah belah dunia Islam. Responden yang berpendapat seperti itu rata-rata 79 % dari mulai Indonesia 73 % sampai Mesir 92 %.
Dalam presentase yang sama besar (rata-rata 79%), Responden berpendapat, Amerika Serikat sedang berusaha menguasai sumber-sumber minyak di Timur Tengah. Malah dalam jumlah cukup besar (rata-rata 64 %), responden percaya bahwa tujuan Amerika Serikat adalah untuk menyebarkan Kristen di Timur Tengah.
Maka Arab Saudi yang selama ini dikenal dekat dengan Amerika Serikat kini tampak mulai bersikap lain. Koran “USA TODAY”, 1 September 2006, membuat laporan ketika Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi, Sheik Abdul-Aziz Al-Sheik, berkhutbah di Padang Arafah di musim haji 2006, yang dibanjiri lebih dari 2 juta jemaah.
Suara ulama ini biasanya mirip sikap pemerintahannya. Nah, ia mengatakan Umat Islam sekarang sedang menghadapi tantangan yang gawat : dituduh teroris, melanggar hak asasi manusia, dan disuruh merevisi buku teks di sekolahannya “Oh bangsa Muslim, sekarang ada perang terhadap keimanan kita, terhadap budaya kita, dengan dalih palsu memerangi terorisme. Kita harus tabah dan bersatu untuk mempertahankan agama kita. Musuh-musuh Islam ingin mengubah Islam itu dengan nilai-nilai dan penafsirannya, tapi tentara Allah pasti akan menang“ katanya. Terdengar teriakan “amin” membahana di padang gersang
KEBEBASAN JADI DALIH
Majalah mingguan Al Ahram mengangap kecaman Paus Benedict XVI yang menyebutkan Islam disebarkan dengan Pedang, Karikatur Koran Denmark yang melecehkan Rasulullah, berita “ the daily telegraph “ yang menuding nabi, semua adalah bagian dari perang melawan teror .
Bukankah itu kebebasan berekspresi? koran tadi menolaknya. Ditunjukkan bukti, bagaimana sekarang setidaknya 12 negara Eropa menyeret siapa saja ke dalam penjara bila berani mengkritik kebenaran “holocaust“. Pembunuhan orang Yahudi pada Perang Dunia II oleh Jerman. Di mana kebebasan bereksipresi?
Di antara Negara Eropa dimaksud adalah Perancis, Jerman, Italia, Belgia, Austria dan Polandia. Di sana, sekalipun anda peneliti sejarah bergelar doctor, akan dijebloskan ke penjara, bila mengkritik kebenaran “holocaust” ancaman hukumannya tak main-main. Mulai paling ringan, 15 bulan di Swiss sampai terberat 20 tahun penjara di Austria. Dan korbannya sudah banyak .
Di dalam laporan tahunan yang dimuat di Koran Inggris, “The Guardian” 23 Mei 2006, Amnesty International menyerang habis penjara Guantananmo. Amnesty menjulukinya Gulag hari ini (“Gulag Of Today”). Gulag adalah kamp tahanan Uni Soviet untuk lawan politik pemerintah. Sekarang Amerika punya “Gulag of Today”, simbol keangkuhan dan kesewenang-wenangan Negara “Super Power”.
Di sana terdapat hampir 400 tahanan yang ditangkap dari seluruh dunia. Mereka ditahan tanpa jelas tuduhannya, tak bisa ditemui (termasuk oleh pengacara) dan sudah 5 tahun tak dibawa ke pengadilan. Harap catat: semuanya beragama Islam.
Apalagi laporan dari Guantanamo menyebutkan di sana terjadi penyiksaan, penghinaan martabat manusia, serta pelecehan terhadap agama Islam yang luar biasa. Kitab suci Al-Qur’an di masukkan ke dalam kloset. Tujuannya agar tersangka marah dan terpancing buka mulut. Bacalah buku “For God and Country : Faith dan Patriotism Under Fire” tulisan James Yee dan Aimee Molloy (2005)
UNTUK MINYAK DAN ISRAEL
Kenapa Afghanistan dan Irak dihancurkan? kenapa ada “war on terror “? wartawan terkenal Craig Unger dalam bukunya “House of Bush, House of Saud“ (2004) menyederhanakan pilar kebijakan politik Amerika di Timur Tengah, cuma dengan dua kata: minyak dan Israel. Setiap langkah negeri itu, pasti berhubungan dengan minyak. Kalau tidak, dengan Israel, sekutu strategisnya sejak Perang Dunia II.
Oleh karenanya Palestina dan Lebanon harus di pecah-belah. Bila keduanya kuat akan mengancam Israel. Iran dan Syria harus diremukkan sebab selalu mengancam negeri Yahudi itu. Bila Iran sekarang di keroyok dan dipojokkan di Dewan Keamanan PBB dengan dalih pengadaan Uranium, itu cuma alasan yang dibuat-buat. Besok pun, urusan itu bisa diklirkan, asal Iran berbaik-baik dengan Israel. Apalagi kalau minyaknya di serahkan kepada perusahaan Amerika .
Ketika Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddeg yang terpilih secara demokratis, menasionalisasikan perusahaan minyak di negerinya, ia segerah dituduh main mata dengan negeri komunis Uni Soviet. Operator CIA pun bergerak.
Operasi itu dipimpin Kermit “kim” Roosevelt, cucu mantan Presiden Teddy Rosevelt. Maka dollar pun ditebar untuk menghasut orang, tapi terutama untuk mendirikan atau membeli koran dan wartawan. Tiba-tiba saja bermunculan banyak koran baru di Teheran, dan dengan galak menyerang Perdana Menteri Mosaddeg.
Orang-orang Kim Roosevelt menggarap para jenderal untuk melakukan kudeta. Seperti tercatat dalam sejarah, aksi CIA itu berhasil. Agustus 1953, huru hara pecah di negeri itu, dan Musaddeg ditumbangkan . Shah Iran yang sudah lari ke Roma, dipanggil pulang, dinobatkan menjadi raja. Bila diamati, apa yang terjadi mirip dengan peristiwa mei 1998 di Indonesia, dengan kasus US$ 26 Juta dari Amerika itu.
Semua ini bukan teori konspirasi, apa yang terjadi – 47 tahun kemudian – diakui secara terbuka oleh Madeleine Al-bright, Menteri Luar Negeri di masa Presiden Clinton. “Pada 1953, Amerika memainkan peran yang signifikan, untuk menjatuhkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddeg yang popular,“ kata Albright dalam suatu acara di Hotel Omni Shoreham, Washington, 17 Maret 2000 (Kenneth M.Pollack, “ The Persian Puzzle”, 2004)
Kisah seperti inilah sesungguhnya yang terjadi di balik “War on Terror”, bisa di baca buku “Failed States”, dan lebih detil di dalam “America Theocracy”. Penyerbuan terhadap Afghanistan dan Irak sudah di rencanakan sebelum terjadi serangan terror 11 September. Keduanya karena alasannya minyak.
Pertanyaanya sekarang, apakah polisi kita harus ikut menjadi bagian dari perang seperti ini ??
http://www.suara-islam.com/news/muhasabah/analisis-kontemporer/1153-densus-88-dan-perang-melawan-islam-
http://freeabb.com/2010/09/densus-88-dan-perang-melawan-islam/
FPI: Kami Akan Buktikan Terorissasi Aceh Bikinan Polisi
FPI: Kami Akan Buktikan Terorissasi Aceh Bikinan Polisi
Jakarta (voa-islam.com) - Front Pembela Islam (FPI) menyatakan punya bukti kuat terkait skenario polisi dalam terorisasi di Aceh. ”Kami punya bukti kuat bahwa polisi yang mengatur terorisasi di Aceh, termasuk pendanaan dan pencarian orang,” kata Sekjen FPI Sobri Lubis, Selasa (31/8/2010).
Bermodalkan bukti itu, Sobri mengatakan, FPI tidak akan tinggal diam. Bukti tersebut nantinya akan segera dibawa ke DPR sebagai langkah koreksi terhadap Polri. “Polisi saat ini sudah merupakan kepanjangan tangan dari bangsa barat,” tandasnya.
...”Kami punya bukti kuat bahwa polisi yang mengatur terorisasi di Aceh, termasuk pendanaan dan pencarian orang,”...
Lebih lanjut Sobri mengatakan, polisi membentuk teroris di Aceh dengan tujuan untuk membungkam keberadaan ormas agar ormas semakin terkekang.
Dia juga menilai, saat ini bangsa barat sudah mengubah nilai agama dan berbangsa yang selama ini dianut. Dengan demikian, menurutnya perubahan terhadap undang-undang ormas bukan solusi yang baik. ”Berkumpul dan berorganisasi merupakan hak asasi manusia,” tegasnya.
Lagi pula, lanjutnya, kalau hanya dibubarkan tidak akan menyurutkan kami dalam menegakkan kebenaran. “Bisa saja kami ganti nama dan itu tidak jadi masalah karena kami berjuang bukan atas nama FPI tapi atas nama Islam,” tandas Sobri.
Revisi UU Ormas Bukan Solusi
Sementara itu, Terkait dengan tuduhan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri tentang keberadaan ormas di Indonesia yang dinilai meresahkan banyak pihak di depan Komisi III DPR. Sekjen FPI Sobri Lubis menganggap, hal tersebut dilakukan Kapolri karena tidak bisa men
...”Kalau dikatakan ormas meresahkan, ya mungkin meresahkan bagi masyarakat yang suka mabok, main judi, maksiat...
”Itu karena kepolisian sudah tidak berdaya lagi dalam menuntaskan semua persoalan yang ada,” kata Sobri, Selasa (31/8/2010). Dia juga mengatakan, keberadaan ormas sebenarnya bentuk dari reaksi terhadap tidak berjalannya hukum di negara ini.
”Kalau dikatakan ormas meresahkan, ya mungkin meresahkan bagi masyarakat yang suka mabok, main judi, maksiat, tapi masyarakat yang tidak melakukan itu tentunya sangat berterima kasih dengan keberadaan kita,” terangnya.
Baginya, jika ada perubahan terhadap undang-undang ormas bukan solusi yang baik. ”Berkumpul dan berorganisasi merupakan hak asasi manusia,” terangnya.
Lagi pula, lanjutnya, kalau hanya dibubarkan tidak akan menyurutkan kami dalam menegakkan kebenaran. “Bisa saja kami ganti nama dan itu tidak jadi masalah karena kami berjuang bukan atas nama FPI tapi atas nama Islam,” tandasnya.
Sobri menilai bangsa barat sudah mengubah nilai agama dan bangsa saat ini. ”Keinginan untuk membubarkan ormas salah satu keinginan bangsa barat yang takut terhadap keberadaan ormas,” tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, jika pembubaran ormas memang terjadi pihaknya sudah menyediakan langkah-langkah yang akan ditempuh. “Kami sudah membentuk langkah-langkah apabila terjadi pembubaran,” pungkasnya.
Data Tidak Valid, Kapolri Sakit
Di lain tempat, Ketua DPP Front Pembela Islam Bidang Nahi Mungkar Munarman menilai rencana evaluasi hingga membekukan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dinilai sering melakukan kekerasan dinilai ngawur. Menurutnya, rencana tersebut hanya berdasarkan data yang tidak valid dan ngawur.
..."Setahu saya itu omongan orang yang mengigau. Kapolri kan sedang sakit. Datanya ngawur, hanya dikumpulkan dari LSM bukan dari anak buahnya sendiri," ...
"Setahu saya itu omongan orang yang mengigau. Kapolri kan sedang sakit. Datanya ngawur, hanya dikumpulkan dari LSM bukan dari anak buahnya sendiri," kata Ketua DPP Front Pembela Islam Bidang Nahi Mungkar Munarman, Selasa (31/8/2010).
Menurut Munarman, sesuai UU No 8/1985, alasan membekukan ormas hanya diperbolehkan bila melanggar kamtibmas, menerima dana asing, atau memberikan bantuan ke asing. Sementara FPI, menurutnya, tidak melanggar satu pun alasan tersebut.
"Kalau disebut data, soal Banyuwangi sudah jelas tidak ada unsur pidana saat gelar perkara oleh polisi. Yang di Bekasi, itu yang melanggar HKBP. Kan justru LSM-LSM itu yang melanggar dengan menerima dan memberi bantuan ke asing," ucap Munarman.
"Kapolri tidak valid begini, waktu membaca hasil pengawasan Century DPR, waktu itu Kapolri baca analisis opsi A, padahal DPR minta opsi C, ya begitu. Disebut ada rekaman Ary Muladi-Ade Raharja, bilang kesana-kesini meyakinkan, eh ternyata enggak ada," sesal Munarman.
Urus Polwan Hamil Luar Nikah Aja Deh!
Selain itu, munarman juga mengingatkan kepada Kapolri untuk tidak membuat imej baik dengan rencana pembubaran FPI, Munarman bahkan nyeletuk agar Kapoliru menangani Polwan hamil di luar nikah saja.
Munarman mengungkapkan ada satu anggota Polwan yang hamil di luar nikah. Polisi wanita itu bertugas di Lampung dan tengah mengandung tiga bulan.
Kejadian itu sudah diketahui oleh internal Kepolisian, namun, belum ada tindakan pemberian sanksi. Ketua DPP Front Pembela Islam Bidang Nahi Mungkar Munarman mengatakan FPI memiliki sumber cukup akurat dan kredibel di lingkungan Polri.
“Pesan saya, sebaiknya Kapolri ngurusin anak buahnya, Polwan di Lampung yang hamil di luar nikah,” cetus Munarman di Jakarta, Selasa (31/8).
Namun, Munarman menolak menjelaskan detil informasi tersebut. Ia hanya mengingatkan agar Kapolri tidak sibuk mencitrakan diri menjelang akhir periode jabatannya, 20 Oktober mendatang. “Dia (Kapolri) ingin memberikan imej baik kepada semua orang,” tukasnya. (Ibnudzar/dbs)
http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/08/31/9667/fpikami-akan-buktikan-terorissasi-aceh-bikinan-polisi/
__._,_.___
Jakarta (voa-islam.com) - Front Pembela Islam (FPI) menyatakan punya bukti kuat terkait skenario polisi dalam terorisasi di Aceh. ”Kami punya bukti kuat bahwa polisi yang mengatur terorisasi di Aceh, termasuk pendanaan dan pencarian orang,” kata Sekjen FPI Sobri Lubis, Selasa (31/8/2010).
Bermodalkan bukti itu, Sobri mengatakan, FPI tidak akan tinggal diam. Bukti tersebut nantinya akan segera dibawa ke DPR sebagai langkah koreksi terhadap Polri. “Polisi saat ini sudah merupakan kepanjangan tangan dari bangsa barat,” tandasnya.
...”Kami punya bukti kuat bahwa polisi yang mengatur terorisasi di Aceh, termasuk pendanaan dan pencarian orang,”...
Lebih lanjut Sobri mengatakan, polisi membentuk teroris di Aceh dengan tujuan untuk membungkam keberadaan ormas agar ormas semakin terkekang.
Dia juga menilai, saat ini bangsa barat sudah mengubah nilai agama dan berbangsa yang selama ini dianut. Dengan demikian, menurutnya perubahan terhadap undang-undang ormas bukan solusi yang baik. ”Berkumpul dan berorganisasi merupakan hak asasi manusia,” tegasnya.
Lagi pula, lanjutnya, kalau hanya dibubarkan tidak akan menyurutkan kami dalam menegakkan kebenaran. “Bisa saja kami ganti nama dan itu tidak jadi masalah karena kami berjuang bukan atas nama FPI tapi atas nama Islam,” tandas Sobri.
Revisi UU Ormas Bukan Solusi
Sementara itu, Terkait dengan tuduhan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri tentang keberadaan ormas di Indonesia yang dinilai meresahkan banyak pihak di depan Komisi III DPR. Sekjen FPI Sobri Lubis menganggap, hal tersebut dilakukan Kapolri karena tidak bisa men
...”Kalau dikatakan ormas meresahkan, ya mungkin meresahkan bagi masyarakat yang suka mabok, main judi, maksiat...
”Itu karena kepolisian sudah tidak berdaya lagi dalam menuntaskan semua persoalan yang ada,” kata Sobri, Selasa (31/8/2010). Dia juga mengatakan, keberadaan ormas sebenarnya bentuk dari reaksi terhadap tidak berjalannya hukum di negara ini.
”Kalau dikatakan ormas meresahkan, ya mungkin meresahkan bagi masyarakat yang suka mabok, main judi, maksiat, tapi masyarakat yang tidak melakukan itu tentunya sangat berterima kasih dengan keberadaan kita,” terangnya.
Baginya, jika ada perubahan terhadap undang-undang ormas bukan solusi yang baik. ”Berkumpul dan berorganisasi merupakan hak asasi manusia,” terangnya.
Lagi pula, lanjutnya, kalau hanya dibubarkan tidak akan menyurutkan kami dalam menegakkan kebenaran. “Bisa saja kami ganti nama dan itu tidak jadi masalah karena kami berjuang bukan atas nama FPI tapi atas nama Islam,” tandasnya.
Sobri menilai bangsa barat sudah mengubah nilai agama dan bangsa saat ini. ”Keinginan untuk membubarkan ormas salah satu keinginan bangsa barat yang takut terhadap keberadaan ormas,” tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, jika pembubaran ormas memang terjadi pihaknya sudah menyediakan langkah-langkah yang akan ditempuh. “Kami sudah membentuk langkah-langkah apabila terjadi pembubaran,” pungkasnya.
Data Tidak Valid, Kapolri Sakit
Di lain tempat, Ketua DPP Front Pembela Islam Bidang Nahi Mungkar Munarman menilai rencana evaluasi hingga membekukan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dinilai sering melakukan kekerasan dinilai ngawur. Menurutnya, rencana tersebut hanya berdasarkan data yang tidak valid dan ngawur.
..."Setahu saya itu omongan orang yang mengigau. Kapolri kan sedang sakit. Datanya ngawur, hanya dikumpulkan dari LSM bukan dari anak buahnya sendiri," ...
"Setahu saya itu omongan orang yang mengigau. Kapolri kan sedang sakit. Datanya ngawur, hanya dikumpulkan dari LSM bukan dari anak buahnya sendiri," kata Ketua DPP Front Pembela Islam Bidang Nahi Mungkar Munarman, Selasa (31/8/2010).
Menurut Munarman, sesuai UU No 8/1985, alasan membekukan ormas hanya diperbolehkan bila melanggar kamtibmas, menerima dana asing, atau memberikan bantuan ke asing. Sementara FPI, menurutnya, tidak melanggar satu pun alasan tersebut.
"Kalau disebut data, soal Banyuwangi sudah jelas tidak ada unsur pidana saat gelar perkara oleh polisi. Yang di Bekasi, itu yang melanggar HKBP. Kan justru LSM-LSM itu yang melanggar dengan menerima dan memberi bantuan ke asing," ucap Munarman.
"Kapolri tidak valid begini, waktu membaca hasil pengawasan Century DPR, waktu itu Kapolri baca analisis opsi A, padahal DPR minta opsi C, ya begitu. Disebut ada rekaman Ary Muladi-Ade Raharja, bilang kesana-kesini meyakinkan, eh ternyata enggak ada," sesal Munarman.
Urus Polwan Hamil Luar Nikah Aja Deh!
Selain itu, munarman juga mengingatkan kepada Kapolri untuk tidak membuat imej baik dengan rencana pembubaran FPI, Munarman bahkan nyeletuk agar Kapoliru menangani Polwan hamil di luar nikah saja.
Munarman mengungkapkan ada satu anggota Polwan yang hamil di luar nikah. Polisi wanita itu bertugas di Lampung dan tengah mengandung tiga bulan.
Kejadian itu sudah diketahui oleh internal Kepolisian, namun, belum ada tindakan pemberian sanksi. Ketua DPP Front Pembela Islam Bidang Nahi Mungkar Munarman mengatakan FPI memiliki sumber cukup akurat dan kredibel di lingkungan Polri.
“Pesan saya, sebaiknya Kapolri ngurusin anak buahnya, Polwan di Lampung yang hamil di luar nikah,” cetus Munarman di Jakarta, Selasa (31/8).
Namun, Munarman menolak menjelaskan detil informasi tersebut. Ia hanya mengingatkan agar Kapolri tidak sibuk mencitrakan diri menjelang akhir periode jabatannya, 20 Oktober mendatang. “Dia (Kapolri) ingin memberikan imej baik kepada semua orang,” tukasnya. (Ibnudzar/dbs)
http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/08/31/9667/fpikami-akan-buktikan-terorissasi-aceh-bikinan-polisi/
__._,_.___
FUI Persoalkan Kehadiran Jenderal Kristen Bintang Tiga Dalam Penangkapan Ba'asyir
FUI Persoalkan Kehadiran Jenderal Kristen Bintang Tiga Dalam Penangkapan Ba'asyir
JAKARTA (voa-islam.com) - Kehadiran Gories Mere, jenderal Kristen bintang tiga pada saat penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Polres Banjar dipertanyakan banyak pihak. Karena ia juga hadir saat penyiksaan para aktivis Muslim yang ditangkap dan dituduh teroris.
Berbagai keganjilan jenderal Kristen bintang tiga ini sebenarnya pernah menjadi sorotan media saat ia membawa tersangka Bom Bali, Ali Imron alias Ale kongkow di Starbuck's Coffee pada 2004 silam.
Ternyata saat ini ada fakta baru yang mengemuka kalau Jenderal Kristen ini berada di balik Satgas Antibom. Satgas ini kerap menyiksa para tahanan Muslim yang ditangkap dengan tuduhan terorisme. Hal ini diungkapkan Munarman saat audiensi FUI dengan Komisi III DPR RI, Selasa (31/8/2010).
...Jenderal Kristen ini berada di balik Satgas Antibom yang kerap menyiksa tahanan Muslim yang ditangkap dengan tuduhan terorisme...
“Kita mendapatkan informasi yang kuat bahwa yang melakukan penyiksaan adalah tim tersendiri, yaitu Satgas Antibom. Satgas ini tidak tunduk di bawah Kepala Densus 88, karena komandan Satgas Anti bom ini jenderal bintang tiga, sementara Kadensus bintang satu” jelas Munarman.
Lebih lanjut, Direktur An-Nashr Institute ini menjelaskan kalau jenderal Kristen ini juga ikut menyaksikan upaya penyiksaan terhadap kliennya, Muhammad Jibril bahkan ia juga hadir dalam penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Polres Banjar.
...jenderal bintang tiga ini hadir di saat ustadz abu ditangkap di Polres Banjar. Ada apa?
“Komandan Satgas ini hadir menyaksikan penyiksaan Jibril. Begitu juga ketika Ustadz Abu ditangkap, jenderal bintang tiga ini hadir di saat ustadz abu ditangkap di Polres Banjar. Sehari-hari ia menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN),” tambahnya.
Muhammad Jibril dan Abu Bakar Baasyir jelas-jelas bukan tahanan narkoba lalu apa pentingnya Gories Mere hadir, apakah dia memiliki misi tersembunyi? [taz/widiarto]
http://voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/01/9717/fui-persoalkan-kehadiran-jenderal-kristen-bintang-tiga-dalam-penangkapan-ba'asyir/
JAKARTA (voa-islam.com) - Kehadiran Gories Mere, jenderal Kristen bintang tiga pada saat penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Polres Banjar dipertanyakan banyak pihak. Karena ia juga hadir saat penyiksaan para aktivis Muslim yang ditangkap dan dituduh teroris.
Berbagai keganjilan jenderal Kristen bintang tiga ini sebenarnya pernah menjadi sorotan media saat ia membawa tersangka Bom Bali, Ali Imron alias Ale kongkow di Starbuck's Coffee pada 2004 silam.
Ternyata saat ini ada fakta baru yang mengemuka kalau Jenderal Kristen ini berada di balik Satgas Antibom. Satgas ini kerap menyiksa para tahanan Muslim yang ditangkap dengan tuduhan terorisme. Hal ini diungkapkan Munarman saat audiensi FUI dengan Komisi III DPR RI, Selasa (31/8/2010).
...Jenderal Kristen ini berada di balik Satgas Antibom yang kerap menyiksa tahanan Muslim yang ditangkap dengan tuduhan terorisme...
“Kita mendapatkan informasi yang kuat bahwa yang melakukan penyiksaan adalah tim tersendiri, yaitu Satgas Antibom. Satgas ini tidak tunduk di bawah Kepala Densus 88, karena komandan Satgas Anti bom ini jenderal bintang tiga, sementara Kadensus bintang satu” jelas Munarman.
Lebih lanjut, Direktur An-Nashr Institute ini menjelaskan kalau jenderal Kristen ini juga ikut menyaksikan upaya penyiksaan terhadap kliennya, Muhammad Jibril bahkan ia juga hadir dalam penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Polres Banjar.
...jenderal bintang tiga ini hadir di saat ustadz abu ditangkap di Polres Banjar. Ada apa?
“Komandan Satgas ini hadir menyaksikan penyiksaan Jibril. Begitu juga ketika Ustadz Abu ditangkap, jenderal bintang tiga ini hadir di saat ustadz abu ditangkap di Polres Banjar. Sehari-hari ia menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN),” tambahnya.
Muhammad Jibril dan Abu Bakar Baasyir jelas-jelas bukan tahanan narkoba lalu apa pentingnya Gories Mere hadir, apakah dia memiliki misi tersembunyi? [taz/widiarto]
http://voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/01/9717/fui-persoalkan-kehadiran-jenderal-kristen-bintang-tiga-dalam-penangkapan-ba'asyir/
Surat Terbuka Forum Umat Islam (FUI)
Inilah Surat Terbuka Forum Umat Islam kepada DPR-RI 'Menolak Rekayasa Terorisme'
Bismillahirrahmanirrahiim
Surat Terbuka Forum Umat Islam (FUI) ke-II Kepada Komisi III DPR-RI
“MENOLAK REKAYASA TERORISME”
Kepada Yth.
Sdr. Ketua Komisi III DPR-RI
dan Anggota Komisi III DPR-RI
Di Senayan JakartaTertuduh Teroris
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Melanjutkan surat terbuka FUI yang pertama kepada Ketua dan Anggota Komisi III DPR RI tertanggal 4 Rajab 1431 H/17 Juni 2010 tentang penolakan FUI atas rekayasa terorisme, khususnya berkenaan dengan adanya rekayasa sistematis untuk menangkapi dan membunuhi para aktivis Islam atas nama pemberantasan terorisme sebagaimana dulu rekayasa dengan operasi penumpasan terhadap apa yang dinamakan dengan Komando Jihad dan setelah ditangkapnya KH. Abu Bakar Ba’asyir secara tidak hormat dan keterlaluan pada hari Senin pagi 28 Sya’ban 1431 H/9 Agustus 2010 sepulang pengajian di lapangan Mapolres Banjar Patroman Jawa Barat oleh Tim Densus 88, maka Forum Umat Islam (FUI) menyatakan :
1. Menolak segala bentuk upaya TERORISASI Islam dan Tokoh Islam beserta umatnya.
2. Mengecam penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir oleh Densus 88 Mabes Polri saat sedang SAFARI DA’WAH di Jawa Barat.
3. Menduga kuat bahwa penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir merupakan:
a. POLITIK REKAYASA TERORISME karena berbagai rekayasa kasus oleh Polri telah terungkap, seperti Kasus Aan yang dinarkobakan, Kasus Pemulung yang dilinting-ganjakan, kasus Gayus, kasus Bibit-Chandra dan lain-lain.
b. POLITIK PENGALIHAN ISU dari kasus-kasus besar seperti Century, Kenaikan TDL, Pencabutan Subsidi BBM, Rekening Gendut Perwira Polri, Keterlibatan Polri dalam rekayasa berbagai kasus, teror bom elpiji oleh pemerintah kepada masyarakat, dan lain-lain, untuk menutupi ketidakmampuan pemerintahan pimpinan presiden lebay.
c. POLITIK PEMBERANGUSAN gerakan Islam untuk menakut-nakuti para Aktivis Islam yang memperjuangkan penerapan Syariat Islam. Politik pemberangusan ini adalah pesanan asing (kafir harby fi’lan).
4. FUI telah mendapatkan laporan bahwa ada REKAYASA TERORISME yang dimainkan oleh seorang Desertir Brimob yang bernama SUFYAN TSAURI yang telah merekrut dan melatih para tersangka “ PELAKU PELATIHAN MILITER ACEH “ di Mako Brimob Kelapa Dua-Cimanggis-Depok-Jawa Barat sejak tahun 2009. Dan juga bahwa pelatihan di mako Brimob maupun pelatihan militer di Aceh adalah inisiatif Sofyan Tsauri dan dibantu oleh polisi aktif bernama Tatang dan Abdi Tunggal. Keterlibatan Sofyan Tsauri dan dua polisi aktif tersebut sudah diakui oleh Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang kepada media massa, Hal ini jelas menunjukkan bahwa kasus pelatihan militer Aceh tidak ada kaitannya dengan KH. Abu Bakar Ba’asyir.
5. Menuntut pembebasan KH. Abu Bakar Ba’asyir tanpa syarat.
6. Menyerukan kepada Ummat Islam untuk merapatkan Barisan dan memperkokoh Ukhuwwah Islamiyyah, serta melawan segala KEZALIMAN, sekaligus melakukan Pembelaan Hukum terhadap KH. Abu Bakar Ba’asyir sesuai dengan aturan syariat Islam dan perundang-undangan yang berlaku.
Oleh karena itu, Kepada Saudara Ketua beserta Anggota Komisi III DPR-RI kami Forum Umat Islam (FUI) mengimbau dan menyerukan :
1. Agar Saudara Pimpinan & Anggota Komisi III DPR-RI mengambil inisiatif untuk menolak dan menghentikan setiap upaya rekayasa terorisme yang mengorbankan anak bangsa sendiri, terlebih seorang ulama seperti KH. Abu Bakar Ba’asyir. Sebab pembunuhan atas jiwa seorang muslim sangat besar dosanya di sisi Allah SWT. Sebagaimana disebut dalam suatu hadits Nabi Muhammad Saw bersabda: “Sungguh hancurnya dunia dan seluruh isinya adalah lebih remeh bagi Allah SWT daripada dibunuhnya jiwa seorang muslim”. Dan sebagai wakil rakyat Saudara bertanggung jawab untuk mengontrol pemerintah agar melaksanakan kewajiban mereka melindungi seluruh rakyat Indonesia, termasuk umat Islam, terlebih para ulamanya.
2. Sebagai implementasi dari butir satu hendaknya Saudara Ketua dan Anggota Komisi III DPR-RI mengontrol Kapolri dan seluruh jajaran Kepolisian Republik Indonesia agar tetap dalam track-nya sebagai aparat keamanan yang digaji dengan uang rakyat, sehingga seluruh jajaran Kepolisian Republik Indonesia adalah bekerja untuk rakyat, bukan untuk elit penguasa tertentu atau apalagi untuk pihak asing yang menjalankan program war on terrorism yang dikendalikan oleh pihak pemerintah AS yang memang memandang seluruh dunia Islam adalah musuh dan teroris.
3. Berkaitan dengan poin 2 kami meminta Komisi III DPR RI untuk meminta dibuat Panja/Pansus untuk menangani masalah penanganan terorisme oleh Densus 88, untuk menuntaskan hal-hal yang menjadi pertanyaan dan keberatan masyarakat seperti adanya dana asing untuk operasi terorisme yang langsung ke pihak kepolisian (Densus 88) yang tidak masusk APBN, adanya kebocoran dalam penjagaan gudang senjata, adanya satgas bom yang melakukan operasi pemburuan para aktivis, penyiksaan para aktivis Islam yang diterorisasi, dan lain-lain.
Mudah-mudahan Saudara Ketua dan Anggota Komisi III DPR-RI berkenan memenuhi himbauan dan seruan kami dan semoga Saudara mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.
Terakhir, kami ingin mengingatkan Saudara Ketua Komisi III dan Anggota Komisi III DPR-RI yang percaya bahwa kehidupan ini ada kehidupan di dunia dan di akhirat, bahwa tindakan rekayasa dan fitnah keji kepada orang-orang mukmin tidak layak dilakukan oleh bangsa dan negara yang bermartabat dan pasti akan mendapatkan balasan dari Allah SWT yang berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan Kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar” (QS. AL Buruj 10).
Dan selayaknya Saudara Ketua dan Anggota Komisi III DPR-RI yang terhormat tidak berpihak kepada mereka yang berbuat fitnah dan kezaliman. Ingatlah Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,…” (QS. Hud: 113)
Baarakallahu lii walakum. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Jakarta, 21 Ramadhan 1431 H/31 Agustus 2010
Atas Nama Umat Islam Indonesia
Forum Umat Islam (FUI)
Sekretaris Jenderal
KH. Muhammad Al Khaththath
FORUM UMAT ISLAM:
Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), YPI Al Azhar, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Anshorut Tauhid, Gerakan Reformis Islam (GARIS), MER-C, Gerakan Pemuda Islam (GPI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), LPPD Khairu Ummah, Syarikat Islam (SI), Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Adz Zikra, PP Daarut Tauhid, Korps Ulama Betawi, Hidayatullah, Al Washliyyah, KAHMI, PERTI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Pesantren Missi Islam, Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), Irena Center, Laskar Aswaja, Wahdah Islamiyah, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.
http://voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/02/9751/inilah-surat-terbuka-forum-umat-islam-kepada-dpr-ri-%27menolak-rekayasa-terorisme/
Bismillahirrahmanirrahiim
Surat Terbuka Forum Umat Islam (FUI) ke-II Kepada Komisi III DPR-RI
“MENOLAK REKAYASA TERORISME”
Kepada Yth.
Sdr. Ketua Komisi III DPR-RI
dan Anggota Komisi III DPR-RI
Di Senayan JakartaTertuduh Teroris
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Melanjutkan surat terbuka FUI yang pertama kepada Ketua dan Anggota Komisi III DPR RI tertanggal 4 Rajab 1431 H/17 Juni 2010 tentang penolakan FUI atas rekayasa terorisme, khususnya berkenaan dengan adanya rekayasa sistematis untuk menangkapi dan membunuhi para aktivis Islam atas nama pemberantasan terorisme sebagaimana dulu rekayasa dengan operasi penumpasan terhadap apa yang dinamakan dengan Komando Jihad dan setelah ditangkapnya KH. Abu Bakar Ba’asyir secara tidak hormat dan keterlaluan pada hari Senin pagi 28 Sya’ban 1431 H/9 Agustus 2010 sepulang pengajian di lapangan Mapolres Banjar Patroman Jawa Barat oleh Tim Densus 88, maka Forum Umat Islam (FUI) menyatakan :
1. Menolak segala bentuk upaya TERORISASI Islam dan Tokoh Islam beserta umatnya.
2. Mengecam penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir oleh Densus 88 Mabes Polri saat sedang SAFARI DA’WAH di Jawa Barat.
3. Menduga kuat bahwa penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir merupakan:
a. POLITIK REKAYASA TERORISME karena berbagai rekayasa kasus oleh Polri telah terungkap, seperti Kasus Aan yang dinarkobakan, Kasus Pemulung yang dilinting-ganjakan, kasus Gayus, kasus Bibit-Chandra dan lain-lain.
b. POLITIK PENGALIHAN ISU dari kasus-kasus besar seperti Century, Kenaikan TDL, Pencabutan Subsidi BBM, Rekening Gendut Perwira Polri, Keterlibatan Polri dalam rekayasa berbagai kasus, teror bom elpiji oleh pemerintah kepada masyarakat, dan lain-lain, untuk menutupi ketidakmampuan pemerintahan pimpinan presiden lebay.
c. POLITIK PEMBERANGUSAN gerakan Islam untuk menakut-nakuti para Aktivis Islam yang memperjuangkan penerapan Syariat Islam. Politik pemberangusan ini adalah pesanan asing (kafir harby fi’lan).
4. FUI telah mendapatkan laporan bahwa ada REKAYASA TERORISME yang dimainkan oleh seorang Desertir Brimob yang bernama SUFYAN TSAURI yang telah merekrut dan melatih para tersangka “ PELAKU PELATIHAN MILITER ACEH “ di Mako Brimob Kelapa Dua-Cimanggis-Depok-Jawa Barat sejak tahun 2009. Dan juga bahwa pelatihan di mako Brimob maupun pelatihan militer di Aceh adalah inisiatif Sofyan Tsauri dan dibantu oleh polisi aktif bernama Tatang dan Abdi Tunggal. Keterlibatan Sofyan Tsauri dan dua polisi aktif tersebut sudah diakui oleh Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang kepada media massa, Hal ini jelas menunjukkan bahwa kasus pelatihan militer Aceh tidak ada kaitannya dengan KH. Abu Bakar Ba’asyir.
5. Menuntut pembebasan KH. Abu Bakar Ba’asyir tanpa syarat.
6. Menyerukan kepada Ummat Islam untuk merapatkan Barisan dan memperkokoh Ukhuwwah Islamiyyah, serta melawan segala KEZALIMAN, sekaligus melakukan Pembelaan Hukum terhadap KH. Abu Bakar Ba’asyir sesuai dengan aturan syariat Islam dan perundang-undangan yang berlaku.
Oleh karena itu, Kepada Saudara Ketua beserta Anggota Komisi III DPR-RI kami Forum Umat Islam (FUI) mengimbau dan menyerukan :
1. Agar Saudara Pimpinan & Anggota Komisi III DPR-RI mengambil inisiatif untuk menolak dan menghentikan setiap upaya rekayasa terorisme yang mengorbankan anak bangsa sendiri, terlebih seorang ulama seperti KH. Abu Bakar Ba’asyir. Sebab pembunuhan atas jiwa seorang muslim sangat besar dosanya di sisi Allah SWT. Sebagaimana disebut dalam suatu hadits Nabi Muhammad Saw bersabda: “Sungguh hancurnya dunia dan seluruh isinya adalah lebih remeh bagi Allah SWT daripada dibunuhnya jiwa seorang muslim”. Dan sebagai wakil rakyat Saudara bertanggung jawab untuk mengontrol pemerintah agar melaksanakan kewajiban mereka melindungi seluruh rakyat Indonesia, termasuk umat Islam, terlebih para ulamanya.
2. Sebagai implementasi dari butir satu hendaknya Saudara Ketua dan Anggota Komisi III DPR-RI mengontrol Kapolri dan seluruh jajaran Kepolisian Republik Indonesia agar tetap dalam track-nya sebagai aparat keamanan yang digaji dengan uang rakyat, sehingga seluruh jajaran Kepolisian Republik Indonesia adalah bekerja untuk rakyat, bukan untuk elit penguasa tertentu atau apalagi untuk pihak asing yang menjalankan program war on terrorism yang dikendalikan oleh pihak pemerintah AS yang memang memandang seluruh dunia Islam adalah musuh dan teroris.
3. Berkaitan dengan poin 2 kami meminta Komisi III DPR RI untuk meminta dibuat Panja/Pansus untuk menangani masalah penanganan terorisme oleh Densus 88, untuk menuntaskan hal-hal yang menjadi pertanyaan dan keberatan masyarakat seperti adanya dana asing untuk operasi terorisme yang langsung ke pihak kepolisian (Densus 88) yang tidak masusk APBN, adanya kebocoran dalam penjagaan gudang senjata, adanya satgas bom yang melakukan operasi pemburuan para aktivis, penyiksaan para aktivis Islam yang diterorisasi, dan lain-lain.
Mudah-mudahan Saudara Ketua dan Anggota Komisi III DPR-RI berkenan memenuhi himbauan dan seruan kami dan semoga Saudara mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.
Terakhir, kami ingin mengingatkan Saudara Ketua Komisi III dan Anggota Komisi III DPR-RI yang percaya bahwa kehidupan ini ada kehidupan di dunia dan di akhirat, bahwa tindakan rekayasa dan fitnah keji kepada orang-orang mukmin tidak layak dilakukan oleh bangsa dan negara yang bermartabat dan pasti akan mendapatkan balasan dari Allah SWT yang berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan Kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar” (QS. AL Buruj 10).
Dan selayaknya Saudara Ketua dan Anggota Komisi III DPR-RI yang terhormat tidak berpihak kepada mereka yang berbuat fitnah dan kezaliman. Ingatlah Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,…” (QS. Hud: 113)
Baarakallahu lii walakum. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Jakarta, 21 Ramadhan 1431 H/31 Agustus 2010
Atas Nama Umat Islam Indonesia
Forum Umat Islam (FUI)
Sekretaris Jenderal
KH. Muhammad Al Khaththath
FORUM UMAT ISLAM:
Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), YPI Al Azhar, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Anshorut Tauhid, Gerakan Reformis Islam (GARIS), MER-C, Gerakan Pemuda Islam (GPI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), LPPD Khairu Ummah, Syarikat Islam (SI), Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Adz Zikra, PP Daarut Tauhid, Korps Ulama Betawi, Hidayatullah, Al Washliyyah, KAHMI, PERTI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Pesantren Missi Islam, Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), Irena Center, Laskar Aswaja, Wahdah Islamiyah, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.
http://voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/02/9751/inilah-surat-terbuka-forum-umat-islam-kepada-dpr-ri-%27menolak-rekayasa-terorisme/
ISAC: Mengapa Yuki Ditembak Mati, Padahal Tak Ikut Merampok CIMB Medan
ISAC: Mengapa Yuki Ditembak Mati, Padahal Tak Ikut Merampok CIMB Medan
JAKARTA (voa-islam.com) – Tudingan Polri bahwa Yuki Wantoro melakukan perampokan Bank CIMB Medan dinilai tidak berdasar sama sekali. Yuki punya alibi kuat karena pada saat kejadian ia berada di Solo untuk membuat KTP. Umat Islam terutama keluarga Yuki bertanya-tanya, kenapa Yuki dituduh teroris pelaku perampokan lalu di tembak mati oleh Densus?
Hal itu diungkapkan dalam jumpa pers keluarga Yuki Wantoro yang didampingi oleh didampingi oleh ISAC (The Islamic Study and Action Center), di Masjid Al Hidayah kampung Tempel Joyosuran Kecamatan Pasar Kliwon Solo tak jauh dari rumah tinggal Yuki, Senin malam (27/9/2010).
Dalam siaran pers yang dilakukan jelang keberangkatan ke Jakarta untuk mengambil jenazah Yuki tersebut, Ketua ISAC Wawan Kurniawan menjelaskan bahwa ISAC terpanggil untuk mengurus jenazah Yuki sudah menjadi kewajiban sesama saudara muslim.
Wawan yakin bahwa salah satu jenazah yang berada di RS dr Sukanto adalah benar Yuki Wantoro. Beberapa jam sebelumnya, Senin siang ia mendapat kabar dari Mabes Polri bahwa identitas jasad Yuki yang berada di polisi mendekati 90 % kebenaran.
Sementara itu Sekretaris ISAC, Endro Sudarso mengungkapkan, ada dua kejanggalan dalam penembakan Yuki oleh Densus, antara lain: Pertama, mengapa Yuki tuduh terlibat perampokan Bank CIMB Niaga pada tanggal 18 Agustus 2010, padahal pada saat itu Yuki berada di Solo? Kedua, mengapa Yuki langsung ditembak mati oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri ?
...mengapa Yuki tuduh terlibat perampokan Bank CIMB Niaga pada tanggal 18 Agustus 2010, padahal pada saat itu Yuki berada di Solo?...
Endro menambahkan, sebenarnya Yuki mempunyai alibi kuat bahwa dia tidak terlibat dalam perampokan Bank CIMB Medan seperti yang dituduhkan polisi. Untuk membuktikan alibi tersebut ia menungkapkan beberapa kronologis lengkap dengan para saksinya, sbb:
1. Tanggal 17 Agustus 2010 Yuki dirumahnya, Tempen RT 04 RW 02 kelurahan Joyosuran kecamatan Pasar Kliwon Solo.
2. Tanggal 18 Agustus 2010 masih sempat membeli pulsa kepada kakaknya dan bercanda dengan ibunya.
3. Tanggal 19 Agustus 2010 kakaknya memotret Yuki menggunakan kamera HP. Rencananya, foto ini akan digunakan untuk mengurus pembuatan KTP di kelurahan.
4. Tanggal 20 Agustus 2010 Yuki membuat KTP di Kecamatan Pasar Kliwon dengan menggunakan pas foto yang dibuatnya pada tanggal 19 Agustus 2010.
5. Tanggal 21 Agustus 2010 Yudi berpamitan ke Jakarta.
6. Minggu 19 September 2010, Yuki Wantoro ditembak mati oleh Densus dalam penggerebekan di sebuah rumah di Belawan, Sumatera Utara.
Karenanya, ISAC mendesak Polri untuk menjelaskan kepada umat terutama keluarga Yuki Purwanto, kenapa Yuki dituding terlibat perampokan CIMB Medan, padahal saat itu Yuki berada di Solo.
...Jangan sampai ada rekayasa terhadap kasus ini dan Mabes Polri juga harus menjelaskan keterlibatan Yuki Wantoro pada 18 Agustus 2010...
“Dari Mabes sendiri sampai saat ini juga belum memberikan surat penangkapan kepada keluarga,” papar Endro. “Jangan sampai ada rekayasa terhadap kasus ini dan Mabes Polri juga harus menjelaskan keterlibatan Yuki Wantoro pada 18 Agustus 2010,” tambahnya.
Usai mengadakan jumpa pers, keluarga Yuki bersama tim ISAC langsung berangkat ke Jakarta menggunakan mobil. Rombongan tiba di Jakarta Selasa (27/9) pagi selanjutnya mengurus administrasi dan setelah selesai jenazah akan segera di bawa ke Solo. Untuk pemakaman sendiri pihak keluarga belum memberikan keputusan yang pasti. [taz/ranumuda]
http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/28/10442/isac-mengapa-yuki-ditembak-mati-padahal-tak-ikut-merampok-cimb-medan/
9/29/2010 10:51 AM
JAKARTA (voa-islam.com) – Tudingan Polri bahwa Yuki Wantoro melakukan perampokan Bank CIMB Medan dinilai tidak berdasar sama sekali. Yuki punya alibi kuat karena pada saat kejadian ia berada di Solo untuk membuat KTP. Umat Islam terutama keluarga Yuki bertanya-tanya, kenapa Yuki dituduh teroris pelaku perampokan lalu di tembak mati oleh Densus?
Hal itu diungkapkan dalam jumpa pers keluarga Yuki Wantoro yang didampingi oleh didampingi oleh ISAC (The Islamic Study and Action Center), di Masjid Al Hidayah kampung Tempel Joyosuran Kecamatan Pasar Kliwon Solo tak jauh dari rumah tinggal Yuki, Senin malam (27/9/2010).
Dalam siaran pers yang dilakukan jelang keberangkatan ke Jakarta untuk mengambil jenazah Yuki tersebut, Ketua ISAC Wawan Kurniawan menjelaskan bahwa ISAC terpanggil untuk mengurus jenazah Yuki sudah menjadi kewajiban sesama saudara muslim.
Wawan yakin bahwa salah satu jenazah yang berada di RS dr Sukanto adalah benar Yuki Wantoro. Beberapa jam sebelumnya, Senin siang ia mendapat kabar dari Mabes Polri bahwa identitas jasad Yuki yang berada di polisi mendekati 90 % kebenaran.
Sementara itu Sekretaris ISAC, Endro Sudarso mengungkapkan, ada dua kejanggalan dalam penembakan Yuki oleh Densus, antara lain: Pertama, mengapa Yuki tuduh terlibat perampokan Bank CIMB Niaga pada tanggal 18 Agustus 2010, padahal pada saat itu Yuki berada di Solo? Kedua, mengapa Yuki langsung ditembak mati oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri ?
...mengapa Yuki tuduh terlibat perampokan Bank CIMB Niaga pada tanggal 18 Agustus 2010, padahal pada saat itu Yuki berada di Solo?...
Endro menambahkan, sebenarnya Yuki mempunyai alibi kuat bahwa dia tidak terlibat dalam perampokan Bank CIMB Medan seperti yang dituduhkan polisi. Untuk membuktikan alibi tersebut ia menungkapkan beberapa kronologis lengkap dengan para saksinya, sbb:
1. Tanggal 17 Agustus 2010 Yuki dirumahnya, Tempen RT 04 RW 02 kelurahan Joyosuran kecamatan Pasar Kliwon Solo.
2. Tanggal 18 Agustus 2010 masih sempat membeli pulsa kepada kakaknya dan bercanda dengan ibunya.
3. Tanggal 19 Agustus 2010 kakaknya memotret Yuki menggunakan kamera HP. Rencananya, foto ini akan digunakan untuk mengurus pembuatan KTP di kelurahan.
4. Tanggal 20 Agustus 2010 Yuki membuat KTP di Kecamatan Pasar Kliwon dengan menggunakan pas foto yang dibuatnya pada tanggal 19 Agustus 2010.
5. Tanggal 21 Agustus 2010 Yudi berpamitan ke Jakarta.
6. Minggu 19 September 2010, Yuki Wantoro ditembak mati oleh Densus dalam penggerebekan di sebuah rumah di Belawan, Sumatera Utara.
Karenanya, ISAC mendesak Polri untuk menjelaskan kepada umat terutama keluarga Yuki Purwanto, kenapa Yuki dituding terlibat perampokan CIMB Medan, padahal saat itu Yuki berada di Solo.
...Jangan sampai ada rekayasa terhadap kasus ini dan Mabes Polri juga harus menjelaskan keterlibatan Yuki Wantoro pada 18 Agustus 2010...
“Dari Mabes sendiri sampai saat ini juga belum memberikan surat penangkapan kepada keluarga,” papar Endro. “Jangan sampai ada rekayasa terhadap kasus ini dan Mabes Polri juga harus menjelaskan keterlibatan Yuki Wantoro pada 18 Agustus 2010,” tambahnya.
Usai mengadakan jumpa pers, keluarga Yuki bersama tim ISAC langsung berangkat ke Jakarta menggunakan mobil. Rombongan tiba di Jakarta Selasa (27/9) pagi selanjutnya mengurus administrasi dan setelah selesai jenazah akan segera di bawa ke Solo. Untuk pemakaman sendiri pihak keluarga belum memberikan keputusan yang pasti. [taz/ranumuda]
http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/28/10442/isac-mengapa-yuki-ditembak-mati-padahal-tak-ikut-merampok-cimb-medan/
9/29/2010 10:51 AM
Kaitkan JAT dengan Perampokan, Polisi Tergesa-gesa dan Sebar Fitnah
Kaitkan JAT dengan Perampokan, Polisi Tergesa-gesa dan Sebar Fitnah
Jakarta (voa-islam.com) - Menanggapi statement Kapolri yang mengaitkan perampokan Bank CIMB Niaga Medan dengan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Ketua sementara JAT Muhammad Achwan menilai Polri merekayasa kasus tersebut dengan mengaitkan JAT, Perampokan dan jaringan teroris di Aceh. Sebab, JAT tidak memiliki anggota di Medan dan Sumatera Utara.
"JAT tidak ada cabang di sana. Di luar Jawa baru ada di Bima, NTB, yang lain belum. Ini pernyataan tergesa-gesa. Selalu dikaitkan-kaitkan. Mungkin nanti ada politikus yang dikait-kaitkan dengan JAT seperti rekayasa di Aceh itu. Jadi kepolisian sendiri yang merekayasa," jelas Muhammad Achwan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/09).
..."JAT tidak ada cabang di sana. Di luar Jawa baru ada di Bima, NTB, yang lain belum. Ini pernyataan tergesa-gesa. Selalu dikaitkan-kaitkan...
Menurutnya, secara umum JAT tidak terlibat dalam perampokan tersebut. Namun, mungkin saja ada anggota yang melakukan tindakan di luar kebijakan JAT atau melakukan tindakan indisipliner. Dalam hal ini sebagai pimpinan JAT, Abu Bakar Baasyir dihadapkan pada posisi dilematis.
Menurutnya, dari 18 orang yang ditangkap terkait perampokan itu, tidak ada satupun anggota JAT. "Kadang-kadang banyak yang ingin bergabung dengan kita. Tapi, fikroh mereka masih di luar kebijakan kita. Itulah mengapa terkadang ada tindakan indisipliner, itu mungkin terjadi. Tapi ini bukan anggota kita," jelasnya.
Achwan juga menilai sangat ironis jika JAT dikaitkan dengan perampokan. Sebab, salah satu misi JAT adalah memberantas penyakit masyarakat, termasuk perampokan.
Sangat ironis kalau ustadz Abu memerintahkan orang-orangnya untuk merampok. Justru Jemaah Anshorut Tauhid itu ingin memberantas penyakit masyarakat, termasuk perampokan itu," ujar Muhammad Achwan.
Polisi Hargai Praduga Tak Bersalah Dong!
Sementara itu, Tim Pembela Muslim (TPM) mengatakan jika Polri ingin memberantas terorisme secara hukum, maka Polri juga harus menjunjung asas praduga tidak bersalah. Hal tersebut disampaikan oleh TPM sehubungan dengan pernyataan Kapolri yang menghubungkan anggota perampokan Bank CIMB Niaga Medan dengan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir.
..."Soal dikaitkan dengan JAT dan Ustadz Abu, saya pikir Pak Kapolri ini tidak tahu kalau ada azas praduga tak bersalah. Jadi janganlah memberikan satu statement yang berkaitan dengan penyudutan...
"Soal dikaitkan dengan JAT dan Ustadz Abu, saya pikir Pak Kapolri ini tidak tahu kalau ada azas praduga tak bersalah. Jadi janganlah memberikan satu statement yang berkaitan dengan penyudutan. Lebih bagus itu nanti saja dalam persidangan," ujar Ketua TPM Achmad Michdan, saat ditemui di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/19).
Michdan juga mengatakan perkara Abu Bakar Baasyir saja belum diajukan, namun Polri sudah mengeluarkan pernyataan yang bersifat menyudutkan. "Kami beritahu bahwa JAT tidak ada di Medan. JAT tidak ada di Sumatera, yang ada di Jawa," ucapnya.
Sementara untuk orang-orang JAT, Michdan juga mengatakan tidak ada, karena para tersangka perampok tersebut semuanya merupakan orang Medan. Namun demikian, Ketua TPM ini membenafrkan ada salah satu keluarga dari tersangka yang menghubungi TPM di Medan, dan TPM Medan tengah mendalami kasus ini.
Saat ditanya apakah JAT sudah mengklarifikasi tidak ada anggotanya yang terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Achmad Michdan mengatakan sudah melakukannya.
"Yang jelas dari pihak JAT sendiri melalui ustadz Abu, menyatakan tidak ada anggota JAT yang di Sumatera Utara. Itu yang konkret. Kemudian tuduhan semacam mengkait-kaitkan itu lebih baik tidak dipublikasikasikan dulu," ujarnya.
Ustadz Abu Hanya Tertawa
Saat mendengar kesimpulan Polri, Ustadz Abu Bakar Baasyir hanya tertawa. Polri menyimpulkan bahwa perampok Bank CIMB Niaga Medan terkait dengan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) yang dipimpinnya. JAT, menurut Baasyir, tidak memiliki anggota di Medan atau Sumatera Utara
Hal itu disampaikan oleh Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) Ahmad Michdan, saat mendatangi Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/09). Saat ditanya bagaimana tanggapan Abu Bakar Baasyir atas pernyataan dari Polri yang mengatakan anggota perampok Bank CIMB Niaga Medan terkait dengan jaringan terorisme dan JAT, Abu Bakar Baasyir tertawa mendengar hal itu.
..."Ya dia ketawa saja. Dia sempat bilang tidak ada JAT di Medan. Di Sumatera Utara tidak ada JAT...
"Ya dia ketawa saja. Dia sempat bilang tidak ada JAT di Medan. Di Sumatera Utara tidak ada JAT. Seharusnya Kapolri menjaga agar tidak mengeluarkan statement yang sifatnya harus dibuktikan di persidangan secara hukum," ujar Michdan menirukan ucapan Abu Bakar Baasyir.
Menurut Michdan, Baasyir menegaskan bahwa yang disampaikan Polri tersebut adalah fitnah. "Jadi jangan mengait-ngaitkan, itu bisa sumber fitnah. Azas hukum kita juga menganut azas praduga tak bersalah, nama orang saja kalau belum tersangka dan diadili itu harus inisial."
Kenapa Harus Ditembak Mati?
Tim Pembela Muslim (TPM) juga menyayangkan terjadinya penembakan terhadap 3 orang yang tersangka perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Menurut Ketua TPM Achmad Michdan, seharusnya penembakan hingga menyebabkan tewasnya tersangka itu tidak perlu terjadi untuk mempermudah mengungkap apa yang ada dibalik perampokan.
..."Yang jelas kita menyayangkan tindakan terhadap upaya dengan harus menyebabkan matinya ketiga tersangka tersebut...
"Yang jelas kita menyayangkan tindakan terhadap upaya dengan harus menyebabkan matinya ketiga tersangka tersebut. Harusnya ini seoptimal mungkin harus bisa ditangkap untuk membuka tabir di balik perampokan ini," ucap Ahmad Michdan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/9).
Michdan juga mengatakan TPM sendiri sudah berulang kali meminta kepolisian tidak menembak mati para tersangka yang dianggap terkait jaringan terorisme, untuk itu TPM melihat harus ada pihak yang mengevaluasi cara kerja Densus 88 anti teror.
"Kami sudah berulang kali meminta kepolisian untuk bertindak profesional untuk tidak melakukan, saya pikir tempatnya relatif bisa sedemikian rupa. Ini mesti ada pihak-pihak yang mengevaluasi tindakan densus 88 dengan cara itu," tegas Michdan.
Hari ini tim pembela muslim dengan puluhan anggota JAT mendatangi Bareskrim Mabes Polri untuk menjenguk Abu Bakar Baasir. Di antara anggota yang hadir adalah ketua sementara Jamaah Anshorud Tauhid, Muhammad Achwan. (LieM/inh)
http://voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/21/10221/kaitkan-jat-dengan-perampokanpolisi-tergesa-gesa-dan-sebar-fitnah/
Jakarta (voa-islam.com) - Menanggapi statement Kapolri yang mengaitkan perampokan Bank CIMB Niaga Medan dengan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Ketua sementara JAT Muhammad Achwan menilai Polri merekayasa kasus tersebut dengan mengaitkan JAT, Perampokan dan jaringan teroris di Aceh. Sebab, JAT tidak memiliki anggota di Medan dan Sumatera Utara.
"JAT tidak ada cabang di sana. Di luar Jawa baru ada di Bima, NTB, yang lain belum. Ini pernyataan tergesa-gesa. Selalu dikaitkan-kaitkan. Mungkin nanti ada politikus yang dikait-kaitkan dengan JAT seperti rekayasa di Aceh itu. Jadi kepolisian sendiri yang merekayasa," jelas Muhammad Achwan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/09).
..."JAT tidak ada cabang di sana. Di luar Jawa baru ada di Bima, NTB, yang lain belum. Ini pernyataan tergesa-gesa. Selalu dikaitkan-kaitkan...
Menurutnya, secara umum JAT tidak terlibat dalam perampokan tersebut. Namun, mungkin saja ada anggota yang melakukan tindakan di luar kebijakan JAT atau melakukan tindakan indisipliner. Dalam hal ini sebagai pimpinan JAT, Abu Bakar Baasyir dihadapkan pada posisi dilematis.
Menurutnya, dari 18 orang yang ditangkap terkait perampokan itu, tidak ada satupun anggota JAT. "Kadang-kadang banyak yang ingin bergabung dengan kita. Tapi, fikroh mereka masih di luar kebijakan kita. Itulah mengapa terkadang ada tindakan indisipliner, itu mungkin terjadi. Tapi ini bukan anggota kita," jelasnya.
Achwan juga menilai sangat ironis jika JAT dikaitkan dengan perampokan. Sebab, salah satu misi JAT adalah memberantas penyakit masyarakat, termasuk perampokan.
Sangat ironis kalau ustadz Abu memerintahkan orang-orangnya untuk merampok. Justru Jemaah Anshorut Tauhid itu ingin memberantas penyakit masyarakat, termasuk perampokan itu," ujar Muhammad Achwan.
Polisi Hargai Praduga Tak Bersalah Dong!
Sementara itu, Tim Pembela Muslim (TPM) mengatakan jika Polri ingin memberantas terorisme secara hukum, maka Polri juga harus menjunjung asas praduga tidak bersalah. Hal tersebut disampaikan oleh TPM sehubungan dengan pernyataan Kapolri yang menghubungkan anggota perampokan Bank CIMB Niaga Medan dengan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir.
..."Soal dikaitkan dengan JAT dan Ustadz Abu, saya pikir Pak Kapolri ini tidak tahu kalau ada azas praduga tak bersalah. Jadi janganlah memberikan satu statement yang berkaitan dengan penyudutan...
"Soal dikaitkan dengan JAT dan Ustadz Abu, saya pikir Pak Kapolri ini tidak tahu kalau ada azas praduga tak bersalah. Jadi janganlah memberikan satu statement yang berkaitan dengan penyudutan. Lebih bagus itu nanti saja dalam persidangan," ujar Ketua TPM Achmad Michdan, saat ditemui di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/19).
Michdan juga mengatakan perkara Abu Bakar Baasyir saja belum diajukan, namun Polri sudah mengeluarkan pernyataan yang bersifat menyudutkan. "Kami beritahu bahwa JAT tidak ada di Medan. JAT tidak ada di Sumatera, yang ada di Jawa," ucapnya.
Sementara untuk orang-orang JAT, Michdan juga mengatakan tidak ada, karena para tersangka perampok tersebut semuanya merupakan orang Medan. Namun demikian, Ketua TPM ini membenafrkan ada salah satu keluarga dari tersangka yang menghubungi TPM di Medan, dan TPM Medan tengah mendalami kasus ini.
Saat ditanya apakah JAT sudah mengklarifikasi tidak ada anggotanya yang terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Achmad Michdan mengatakan sudah melakukannya.
"Yang jelas dari pihak JAT sendiri melalui ustadz Abu, menyatakan tidak ada anggota JAT yang di Sumatera Utara. Itu yang konkret. Kemudian tuduhan semacam mengkait-kaitkan itu lebih baik tidak dipublikasikasikan dulu," ujarnya.
Ustadz Abu Hanya Tertawa
Saat mendengar kesimpulan Polri, Ustadz Abu Bakar Baasyir hanya tertawa. Polri menyimpulkan bahwa perampok Bank CIMB Niaga Medan terkait dengan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) yang dipimpinnya. JAT, menurut Baasyir, tidak memiliki anggota di Medan atau Sumatera Utara
Hal itu disampaikan oleh Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) Ahmad Michdan, saat mendatangi Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/09). Saat ditanya bagaimana tanggapan Abu Bakar Baasyir atas pernyataan dari Polri yang mengatakan anggota perampok Bank CIMB Niaga Medan terkait dengan jaringan terorisme dan JAT, Abu Bakar Baasyir tertawa mendengar hal itu.
..."Ya dia ketawa saja. Dia sempat bilang tidak ada JAT di Medan. Di Sumatera Utara tidak ada JAT...
"Ya dia ketawa saja. Dia sempat bilang tidak ada JAT di Medan. Di Sumatera Utara tidak ada JAT. Seharusnya Kapolri menjaga agar tidak mengeluarkan statement yang sifatnya harus dibuktikan di persidangan secara hukum," ujar Michdan menirukan ucapan Abu Bakar Baasyir.
Menurut Michdan, Baasyir menegaskan bahwa yang disampaikan Polri tersebut adalah fitnah. "Jadi jangan mengait-ngaitkan, itu bisa sumber fitnah. Azas hukum kita juga menganut azas praduga tak bersalah, nama orang saja kalau belum tersangka dan diadili itu harus inisial."
Kenapa Harus Ditembak Mati?
Tim Pembela Muslim (TPM) juga menyayangkan terjadinya penembakan terhadap 3 orang yang tersangka perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Menurut Ketua TPM Achmad Michdan, seharusnya penembakan hingga menyebabkan tewasnya tersangka itu tidak perlu terjadi untuk mempermudah mengungkap apa yang ada dibalik perampokan.
..."Yang jelas kita menyayangkan tindakan terhadap upaya dengan harus menyebabkan matinya ketiga tersangka tersebut...
"Yang jelas kita menyayangkan tindakan terhadap upaya dengan harus menyebabkan matinya ketiga tersangka tersebut. Harusnya ini seoptimal mungkin harus bisa ditangkap untuk membuka tabir di balik perampokan ini," ucap Ahmad Michdan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/9).
Michdan juga mengatakan TPM sendiri sudah berulang kali meminta kepolisian tidak menembak mati para tersangka yang dianggap terkait jaringan terorisme, untuk itu TPM melihat harus ada pihak yang mengevaluasi cara kerja Densus 88 anti teror.
"Kami sudah berulang kali meminta kepolisian untuk bertindak profesional untuk tidak melakukan, saya pikir tempatnya relatif bisa sedemikian rupa. Ini mesti ada pihak-pihak yang mengevaluasi tindakan densus 88 dengan cara itu," tegas Michdan.
Hari ini tim pembela muslim dengan puluhan anggota JAT mendatangi Bareskrim Mabes Polri untuk menjenguk Abu Bakar Baasir. Di antara anggota yang hadir adalah ketua sementara Jamaah Anshorud Tauhid, Muhammad Achwan. (LieM/inh)
http://voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/21/10221/kaitkan-jat-dengan-perampokanpolisi-tergesa-gesa-dan-sebar-fitnah/
Jakarta (voa-islam.com) - Menanggapi statement Kapolri yang mengaitkan perampokan Bank CIMB Niaga Medan dengan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Ketua sementara JAT Muhammad Achwan menilai Polri merekayasa kasus tersebut dengan mengaitkan JAT, Perampokan dan jaringan teroris di Aceh. Sebab, JAT tidak memiliki anggota di Medan dan Sumatera Utara.
"JAT tidak ada cabang di sana. Di luar Jawa baru ada di Bima, NTB, yang lain belum. Ini pernyataan tergesa-gesa. Selalu dikaitkan-kaitkan. Mungkin nanti ada politikus yang dikait-kaitkan dengan JAT seperti rekayasa di Aceh itu. Jadi kepolisian sendiri yang merekayasa," jelas Muhammad Achwan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/09).
..."JAT tidak ada cabang di sana. Di luar Jawa baru ada di Bima, NTB, yang lain belum. Ini pernyataan tergesa-gesa. Selalu dikaitkan-kaitkan...
Menurutnya, secara umum JAT tidak terlibat dalam perampokan tersebut. Namun, mungkin saja ada anggota yang melakukan tindakan di luar kebijakan JAT atau melakukan tindakan indisipliner. Dalam hal ini sebagai pimpinan JAT, Abu Bakar Baasyir dihadapkan pada posisi dilematis.
Menurutnya, dari 18 orang yang ditangkap terkait perampokan itu, tidak ada satupun anggota JAT. "Kadang-kadang banyak yang ingin bergabung dengan kita. Tapi, fikroh mereka masih di luar kebijakan kita. Itulah mengapa terkadang ada tindakan indisipliner, itu mungkin terjadi. Tapi ini bukan anggota kita," jelasnya.
Achwan juga menilai sangat ironis jika JAT dikaitkan dengan perampokan. Sebab, salah satu misi JAT adalah memberantas penyakit masyarakat, termasuk perampokan.
Sangat ironis kalau ustadz Abu memerintahkan orang-orangnya untuk merampok. Justru Jemaah Anshorut Tauhid itu ingin memberantas penyakit masyarakat, termasuk perampokan itu," ujar Muhammad Achwan.
Polisi Hargai Praduga Tak Bersalah Dong!
Sementara itu, Tim Pembela Muslim (TPM) mengatakan jika Polri ingin memberantas terorisme secara hukum, maka Polri juga harus menjunjung asas praduga tidak bersalah. Hal tersebut disampaikan oleh TPM sehubungan dengan pernyataan Kapolri yang menghubungkan anggota perampokan Bank CIMB Niaga Medan dengan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir.
..."Soal dikaitkan dengan JAT dan Ustadz Abu, saya pikir Pak Kapolri ini tidak tahu kalau ada azas praduga tak bersalah. Jadi janganlah memberikan satu statement yang berkaitan dengan penyudutan...
"Soal dikaitkan dengan JAT dan Ustadz Abu, saya pikir Pak Kapolri ini tidak tahu kalau ada azas praduga tak bersalah. Jadi janganlah memberikan satu statement yang berkaitan dengan penyudutan. Lebih bagus itu nanti saja dalam persidangan," ujar Ketua TPM Achmad Michdan, saat ditemui di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/19).
Michdan juga mengatakan perkara Abu Bakar Baasyir saja belum diajukan, namun Polri sudah mengeluarkan pernyataan yang bersifat menyudutkan. "Kami beritahu bahwa JAT tidak ada di Medan. JAT tidak ada di Sumatera, yang ada di Jawa," ucapnya.
Sementara untuk orang-orang JAT, Michdan juga mengatakan tidak ada, karena para tersangka perampok tersebut semuanya merupakan orang Medan. Namun demikian, Ketua TPM ini membenafrkan ada salah satu keluarga dari tersangka yang menghubungi TPM di Medan, dan TPM Medan tengah mendalami kasus ini.
Saat ditanya apakah JAT sudah mengklarifikasi tidak ada anggotanya yang terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Achmad Michdan mengatakan sudah melakukannya.
"Yang jelas dari pihak JAT sendiri melalui ustadz Abu, menyatakan tidak ada anggota JAT yang di Sumatera Utara. Itu yang konkret. Kemudian tuduhan semacam mengkait-kaitkan itu lebih baik tidak dipublikasikasikan dulu," ujarnya.
Ustadz Abu Hanya Tertawa
Saat mendengar kesimpulan Polri, Ustadz Abu Bakar Baasyir hanya tertawa. Polri menyimpulkan bahwa perampok Bank CIMB Niaga Medan terkait dengan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) yang dipimpinnya. JAT, menurut Baasyir, tidak memiliki anggota di Medan atau Sumatera Utara
Hal itu disampaikan oleh Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) Ahmad Michdan, saat mendatangi Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/09). Saat ditanya bagaimana tanggapan Abu Bakar Baasyir atas pernyataan dari Polri yang mengatakan anggota perampok Bank CIMB Niaga Medan terkait dengan jaringan terorisme dan JAT, Abu Bakar Baasyir tertawa mendengar hal itu.
..."Ya dia ketawa saja. Dia sempat bilang tidak ada JAT di Medan. Di Sumatera Utara tidak ada JAT...
"Ya dia ketawa saja. Dia sempat bilang tidak ada JAT di Medan. Di Sumatera Utara tidak ada JAT. Seharusnya Kapolri menjaga agar tidak mengeluarkan statement yang sifatnya harus dibuktikan di persidangan secara hukum," ujar Michdan menirukan ucapan Abu Bakar Baasyir.
Menurut Michdan, Baasyir menegaskan bahwa yang disampaikan Polri tersebut adalah fitnah. "Jadi jangan mengait-ngaitkan, itu bisa sumber fitnah. Azas hukum kita juga menganut azas praduga tak bersalah, nama orang saja kalau belum tersangka dan diadili itu harus inisial."
Kenapa Harus Ditembak Mati?
Tim Pembela Muslim (TPM) juga menyayangkan terjadinya penembakan terhadap 3 orang yang tersangka perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Menurut Ketua TPM Achmad Michdan, seharusnya penembakan hingga menyebabkan tewasnya tersangka itu tidak perlu terjadi untuk mempermudah mengungkap apa yang ada dibalik perampokan.
..."Yang jelas kita menyayangkan tindakan terhadap upaya dengan harus menyebabkan matinya ketiga tersangka tersebut...
"Yang jelas kita menyayangkan tindakan terhadap upaya dengan harus menyebabkan matinya ketiga tersangka tersebut. Harusnya ini seoptimal mungkin harus bisa ditangkap untuk membuka tabir di balik perampokan ini," ucap Ahmad Michdan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/9).
Michdan juga mengatakan TPM sendiri sudah berulang kali meminta kepolisian tidak menembak mati para tersangka yang dianggap terkait jaringan terorisme, untuk itu TPM melihat harus ada pihak yang mengevaluasi cara kerja Densus 88 anti teror.
"Kami sudah berulang kali meminta kepolisian untuk bertindak profesional untuk tidak melakukan, saya pikir tempatnya relatif bisa sedemikian rupa. Ini mesti ada pihak-pihak yang mengevaluasi tindakan densus 88 dengan cara itu," tegas Michdan.
Hari ini tim pembela muslim dengan puluhan anggota JAT mendatangi Bareskrim Mabes Polri untuk menjenguk Abu Bakar Baasir. Di antara anggota yang hadir adalah ketua sementara Jamaah Anshorud Tauhid, Muhammad Achwan. (LieM/inh)
http://voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/21/10221/kaitkan-jat-dengan-perampokanpolisi-tergesa-gesa-dan-sebar-fitnah/
Jakarta (voa-islam.com) - Menanggapi statement Kapolri yang mengaitkan perampokan Bank CIMB Niaga Medan dengan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Ketua sementara JAT Muhammad Achwan menilai Polri merekayasa kasus tersebut dengan mengaitkan JAT, Perampokan dan jaringan teroris di Aceh. Sebab, JAT tidak memiliki anggota di Medan dan Sumatera Utara.
"JAT tidak ada cabang di sana. Di luar Jawa baru ada di Bima, NTB, yang lain belum. Ini pernyataan tergesa-gesa. Selalu dikaitkan-kaitkan. Mungkin nanti ada politikus yang dikait-kaitkan dengan JAT seperti rekayasa di Aceh itu. Jadi kepolisian sendiri yang merekayasa," jelas Muhammad Achwan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/09).
..."JAT tidak ada cabang di sana. Di luar Jawa baru ada di Bima, NTB, yang lain belum. Ini pernyataan tergesa-gesa. Selalu dikaitkan-kaitkan...
Menurutnya, secara umum JAT tidak terlibat dalam perampokan tersebut. Namun, mungkin saja ada anggota yang melakukan tindakan di luar kebijakan JAT atau melakukan tindakan indisipliner. Dalam hal ini sebagai pimpinan JAT, Abu Bakar Baasyir dihadapkan pada posisi dilematis.
Menurutnya, dari 18 orang yang ditangkap terkait perampokan itu, tidak ada satupun anggota JAT. "Kadang-kadang banyak yang ingin bergabung dengan kita. Tapi, fikroh mereka masih di luar kebijakan kita. Itulah mengapa terkadang ada tindakan indisipliner, itu mungkin terjadi. Tapi ini bukan anggota kita," jelasnya.
Achwan juga menilai sangat ironis jika JAT dikaitkan dengan perampokan. Sebab, salah satu misi JAT adalah memberantas penyakit masyarakat, termasuk perampokan.
Sangat ironis kalau ustadz Abu memerintahkan orang-orangnya untuk merampok. Justru Jemaah Anshorut Tauhid itu ingin memberantas penyakit masyarakat, termasuk perampokan itu," ujar Muhammad Achwan.
Polisi Hargai Praduga Tak Bersalah Dong!
Sementara itu, Tim Pembela Muslim (TPM) mengatakan jika Polri ingin memberantas terorisme secara hukum, maka Polri juga harus menjunjung asas praduga tidak bersalah. Hal tersebut disampaikan oleh TPM sehubungan dengan pernyataan Kapolri yang menghubungkan anggota perampokan Bank CIMB Niaga Medan dengan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir.
..."Soal dikaitkan dengan JAT dan Ustadz Abu, saya pikir Pak Kapolri ini tidak tahu kalau ada azas praduga tak bersalah. Jadi janganlah memberikan satu statement yang berkaitan dengan penyudutan...
"Soal dikaitkan dengan JAT dan Ustadz Abu, saya pikir Pak Kapolri ini tidak tahu kalau ada azas praduga tak bersalah. Jadi janganlah memberikan satu statement yang berkaitan dengan penyudutan. Lebih bagus itu nanti saja dalam persidangan," ujar Ketua TPM Achmad Michdan, saat ditemui di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/19).
Michdan juga mengatakan perkara Abu Bakar Baasyir saja belum diajukan, namun Polri sudah mengeluarkan pernyataan yang bersifat menyudutkan. "Kami beritahu bahwa JAT tidak ada di Medan. JAT tidak ada di Sumatera, yang ada di Jawa," ucapnya.
Sementara untuk orang-orang JAT, Michdan juga mengatakan tidak ada, karena para tersangka perampok tersebut semuanya merupakan orang Medan. Namun demikian, Ketua TPM ini membenafrkan ada salah satu keluarga dari tersangka yang menghubungi TPM di Medan, dan TPM Medan tengah mendalami kasus ini.
Saat ditanya apakah JAT sudah mengklarifikasi tidak ada anggotanya yang terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Achmad Michdan mengatakan sudah melakukannya.
"Yang jelas dari pihak JAT sendiri melalui ustadz Abu, menyatakan tidak ada anggota JAT yang di Sumatera Utara. Itu yang konkret. Kemudian tuduhan semacam mengkait-kaitkan itu lebih baik tidak dipublikasikasikan dulu," ujarnya.
Ustadz Abu Hanya Tertawa
Saat mendengar kesimpulan Polri, Ustadz Abu Bakar Baasyir hanya tertawa. Polri menyimpulkan bahwa perampok Bank CIMB Niaga Medan terkait dengan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) yang dipimpinnya. JAT, menurut Baasyir, tidak memiliki anggota di Medan atau Sumatera Utara
Hal itu disampaikan oleh Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) Ahmad Michdan, saat mendatangi Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/09). Saat ditanya bagaimana tanggapan Abu Bakar Baasyir atas pernyataan dari Polri yang mengatakan anggota perampok Bank CIMB Niaga Medan terkait dengan jaringan terorisme dan JAT, Abu Bakar Baasyir tertawa mendengar hal itu.
..."Ya dia ketawa saja. Dia sempat bilang tidak ada JAT di Medan. Di Sumatera Utara tidak ada JAT...
"Ya dia ketawa saja. Dia sempat bilang tidak ada JAT di Medan. Di Sumatera Utara tidak ada JAT. Seharusnya Kapolri menjaga agar tidak mengeluarkan statement yang sifatnya harus dibuktikan di persidangan secara hukum," ujar Michdan menirukan ucapan Abu Bakar Baasyir.
Menurut Michdan, Baasyir menegaskan bahwa yang disampaikan Polri tersebut adalah fitnah. "Jadi jangan mengait-ngaitkan, itu bisa sumber fitnah. Azas hukum kita juga menganut azas praduga tak bersalah, nama orang saja kalau belum tersangka dan diadili itu harus inisial."
Kenapa Harus Ditembak Mati?
Tim Pembela Muslim (TPM) juga menyayangkan terjadinya penembakan terhadap 3 orang yang tersangka perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Menurut Ketua TPM Achmad Michdan, seharusnya penembakan hingga menyebabkan tewasnya tersangka itu tidak perlu terjadi untuk mempermudah mengungkap apa yang ada dibalik perampokan.
..."Yang jelas kita menyayangkan tindakan terhadap upaya dengan harus menyebabkan matinya ketiga tersangka tersebut...
"Yang jelas kita menyayangkan tindakan terhadap upaya dengan harus menyebabkan matinya ketiga tersangka tersebut. Harusnya ini seoptimal mungkin harus bisa ditangkap untuk membuka tabir di balik perampokan ini," ucap Ahmad Michdan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (21/9).
Michdan juga mengatakan TPM sendiri sudah berulang kali meminta kepolisian tidak menembak mati para tersangka yang dianggap terkait jaringan terorisme, untuk itu TPM melihat harus ada pihak yang mengevaluasi cara kerja Densus 88 anti teror.
"Kami sudah berulang kali meminta kepolisian untuk bertindak profesional untuk tidak melakukan, saya pikir tempatnya relatif bisa sedemikian rupa. Ini mesti ada pihak-pihak yang mengevaluasi tindakan densus 88 dengan cara itu," tegas Michdan.
Hari ini tim pembela muslim dengan puluhan anggota JAT mendatangi Bareskrim Mabes Polri untuk menjenguk Abu Bakar Baasir. Di antara anggota yang hadir adalah ketua sementara Jamaah Anshorud Tauhid, Muhammad Achwan. (LieM/inh)
http://voa-islam.com/news/indonesia/2010/09/21/10221/kaitkan-jat-dengan-perampokanpolisi-tergesa-gesa-dan-sebar-fitnah/
Langganan:
Komentar (Atom)